Oleh: Redaksi Opini Publik.Co
Blora bukan hanya cerita tentang ladang migas tua dan sejarah panjang hutan jati. Kini, di tengah keterbatasan fiskal dan tekanan lapangan kerja, sebuah harapan baru muncul: pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) Kawasan Industri (KI). Inisiatif ini bukan sekadar formalitas kelembagaan, melainkan langkah strategis yang dapat mengubah wajah ekonomi Blora ke depan.
Langkah Bupati Blora, Arief Rohman, yang membuka ruang lebar bagi usulan pembentukan POKJA patut diapresiasi. Respons positif terhadap aspirasi masyarakat, seperti HIPMI, KADIN, hingga kelompok mahasiswa, menjadi sinyal kuat bahwa pemda siap duduk satu meja untuk menyusun roadmap pembangunan industri secara terstruktur dan inklusif.
Namun, pembentukan POKJA saja tidak otomatis menjawab seluruh tantangan. Kita dihadapkan pada persoalan klasik: lambannya realisasi konsep Kawasan Peruntukan Industri (KPI) yang sudah lama digagas namun belum menyentuh sektor riil. Nilai investasi macet, lahan terpecah, dan perizinan rumit adalah deretan keluhan yang terus berulang. Di sinilah POKJA harus hadir sebagai mesin penggerak—bukan penonton kebijakan.


.gif)