Dalam kerangka laporan akhir tahun, langkah ini penting karena memperlihatkan upaya DP4 membangun infrastruktur pengetahuan, riset terapan, pendampingan, dan regenerasi SDM—sebagai prasyarat menuju target besar Blora sebagai Kabupaten Organik.
Tanpa dukungan lembaga pendidikan dan jejaring masyarakat sipil, label “organik” berisiko berhenti di tataran slogan.
Pejuang Swasembada Pangan
DP4 tidak membatasi definisi “pejuang pangan” pada petani semata. Penerima apresiasi mencerminkan ekosistem kerja pangan yang berlapis, meliputi: Babinsa, Koramil, Penyuluh Pertanian dan Perikanan, BPP, Kelompok Tani, Kepala Desa, Petani Milenial, UPJA, Petugas POPT, Petugas IB dan Keswan, PKK Desa/Kelurahan, Pokdakan, serta jajaran teknis DP4.
Penghargaan juga diberikan kepada unsur TNI–Polri, khususnya Dandim 0721 dan Kapolres Blora, atas dukungan konkret dalam pengamanan dan pengawalan program pangan strategis, terutama padi dan jagung.
Martabat Daerah
Mewakili Bupati Blora Arief Rohman, Wakil Bupati Sri Setyorini menegaskan bahwa pembangunan pertanian bukan sekadar soal angka produksi, tetapi ketahanan, kemandirian, dan martabat daerah.
Dalam sambutannya, ia menekankan beberapa poin kunci: Potensi besar Blora tidak berarti tanpa kerja lapangan yang konsisten. Inovasi seperti GESEKU harus terus dijaga dampaknya, bukan hanya prestasinya.
Dikatakan Wabub, Pemerintah daerah berkomitmen hadir melalui kebijakan, pendampingan, dan sarana prasarana, termasuk kendaraan operasional bagi penyuluh pertanian. “Swasembada pangan adalah tanggung jawab bersama, bukan monopoli pemerintah, ‘’ jelasnya. Penegasan ini penting karena meletakkan pangan sebagai isu struktural, bukan sektoral.
Ukur Dampak

Sebagai laporan akhir tahun, agenda ini menyisakan pekerjaan rumah yang jelas. Apresiasi memberi pengakuan, tetapi keberlanjutan kebijakan ditentukan oleh ukuran dampak yang terukur, antara lain seperti sejauh mana pupuk organik GESEKU menurunkan biaya produksi petani.
Apakah produktivitas dan kualitas hasil meningkat secara konsisten. Dan bagaimana peta jalan “Kabupaten Organik” diterjemahkan ke target komoditas, pasar, dan insentif ekonomi
DP4 Blora menutup 2025 dengan modal data, jejaring, dan pengakuan. Tantangan 2026 adalah memastikan bahwa seluruh capaian itu tidak berhenti di pendopo, tetapi benar-benar mengakar di sawah, kandang, dan kolam, tempat swasembada pangan diuji setiap hari. (@bangsar25)


.gif)