“Target kami memotivasi masyarakat aktif mengaktivasi QRIS. Bayar pajak sekarang cukup dari HP, download SPPT sendiri, bayar dari rumah. Di PPI, yang bayar langsung dapat hadiah. Kami bahkan siapkan game edukasi transaksi digital agar masyarakat belajar sambil senang,” jelasnya.
Kegiatan ini sejalan dengan tenggat jatuh tempo PBB 30 September, sehingga sekaligus membantu peningkatan realisasi pajak.
Gerakan Inovasi Eselon
Susi menegaskan, inovasi di BPPKAD bukan slogan. Setiap pejabat eselon diwajibkan membuat minimal satu inovasi per tahun.
“Inovasi itu proses, bukan acara musiman. Bahkan hal kecil seperti penghargaan kepada subjek pajak yang bayar langsung bisa jadi inovasi. Kita ingin budaya inovasi ini menjadi habit di BPPKAD,” tegasnya.
Gerakan ini terbukti membawa hasil. Tahun lalu, BPPKAD Blora meraih juara tiga nominasi daerah inovatif tingkat Jawa Tengah, dan tahun ini kembali masuk nominasi.
Dalam PPI Jateng 2025, BPPKAD juga menyiapkan penghargaan bagi desa/kelurahan lunas PBB triwulan I dan II, serta apresiasi khusus kepada wajib pajak patuh.
“Bukan hanya restoran atau warungnya yang kita apresiasi, tetapi juga masyarakat yang mau bayar pajak. Prinsip-prinsip seperti ini yang akan terus kami kembangkan agar kesadaran pajak makin meningkat,” tambah Susi.
Kabupaten Terinovatif
PPI Jateng 2025 di Blora dianggap Susi sebagai kebanggaan tersendiri. “Blora ini sudah mendapat predikat Kabupaten Terinovatif. Jadi momentum PPI harus kita manfaatkan untuk menunjukkan kepada Jawa Tengah bahwa inovasi sudah menjadi kebiasaan di setiap OPD,” ujarnya.
Ia menilai gebrakan BPPKAD tidak hanya berfokus pada peningkatan PAD, tetapi juga membentuk perilaku fiskal yang sehat dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
“Kalau ingin Blora maju, disiplin fiskal harus dimulai dari masyarakatnya, dan kreativitas harus lahir dari aparatur pemerintahnya,” tandas Susi Widyorini. (Giwang/@bangsar25)


.gif)