NGOBRAS “Ngopi Bareng Wakil Rakyat” Blora Adiria dan Sri Endahwati
JEPON BLORA : Di tengah atmosfer efisiensi nasional yang melanda seluruh sektor pemerintahan, roda perekonomian daerah seperti Blora pun turut merasakan imbasnya.

Lesunya geliat ekonomi lokal menjadi perhatian serius, tidak hanya bagi pihak eksekutif, tetapi juga legislatif daerah.
Berangkat dari kegelisahan itu, sebuah momen Ngobrol Santai (Ngobras) “Ngopi Bareng Wakil Rakyat” pun digelar secara informal di kediaman Adiria, anggota DPRD Blora, di kawasan Jepon, Blora.
Hadir dalam bincang hangat iniSiswanto SPd, MHWakil Ketua DPRD Blora danKetua BPC, HIPMI Blora,Sri Endahwati, STyang tak lain isteri Wakil Ketua DPRD Blora itu. Bunda Endah juga seorang pengusaha muda yang kini aktif mendorong berbagai gagasan strategi untuk pembangunan Blora.
Dampak pada Ekonomi Daerah
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, meskipun bertujuan menyehatkan keuangan negara, nyatanya memberi tekanan nyata pada aktivitas ekonomi daerah.
Pengetatan belanja pemerintah mengakibatkan berkurangnya perputaran uang di sektor-sektor vital seperti perdagangan lokal, usaha kecil, dan lapangan pekerjaan informal.
“Kalau tidak ada upaya konkret dari pemerintah daerah untuk mencari terobosan, maka sektor yang langsung menyangkut hajat hidup rakyat akan makin tertekan,” kata Adiria dalam sesi ngobrol tersebut.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, perekonomian Blora masih bergantung besar pada sektor pertanian dan pertambangan, dengan kontribusi PDRB yang signifikan namun bernilai tambah rendah karena minimnya industrialisasi hasil panen.
Peluang di Tengah Lesunya Sektor Perdaganga
Blora sejatinya masih memiliki secercah harapan. Di tengah lesunya sektor perdagangan dan industri, sektor pertanian justru mencatatkan kinerja positif. Produksi padi dan jagung Blora tahun ini mengalami surplus, berkontribusi besar pada ketahanan pangan daerah.
Namun, baik Adiria maupun Sri Endahwati sama-sama menggarisbawahi bahwa potensi ini belum optimal. “Selama hasil panen hanya dijual dalam bentuk gabah atau jagung mentah ke luar daerah, Blora tidak menikmati nilai tambahnya,” ujar Sri Endahwati.


.gif)