Sebagai Kepala Disdikbud, Sadimin membawa pendekatan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor. Ia dikenal tidak gegabah mengambil keputusan, namun tegas ketika menyangkut integritas dan efektivitas.
Tantangan yang ia hadapi tidak ringan: ketimpangan pendidikan antara kota dan desa, kualitas guru, hingga revitalisasi SMK yang belum sepenuhnya menyatu dengan kebutuhan dunia industri.
Beberapa agenda prioritas yang mulai disusun antara lain: Penguatan Digitalisasi Sekolah: mendorong integrasi platform pembelajaran daring di sekolah menengah. Revitalisasi Kurikulum Kebudayaan Lokal: agar tidak hilang ditelan zaman dan Pemetaan Ulang Distribusi Guru dan Fasilitas Pendidikan: khususnya di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Komitmen pada Pendidikan
Lahir dari keluarga sederhana di pelosok Jawa Tengah, Sadimin tumbuh besar dalam tradisi kerasnya hidup di desa. Namun justru dari sanalah tumbuh kepekaan sosial dan visi panjangnya terhadap pendidikan yang adil dan berkeadilan.
“Kita hanya bisa memutus rantai kemiskinan struktural lewat pendidikan yang berpihak. Bukan sekadar membangun gedung, tapi membangun daya pikir,” ungkapnya dalam sesi pembekalan calon pejabat di BPSDMD tahun lalu.
Dr. Sadimin bukan tipikal pejabat flamboyan. Ia bekerja dalam senyap, namun efek dari kebijakan dan pendekatannya kerap menjalar jauh. Kini, dunia pendidikan Jawa Tengah berada di tangan seorang birokrat yang tahu bagaimana rasanya berada di ruang kelas, sekaligus di ruang rapat pengambil kebijakan.
Dalam perjalanannya sebagai Kadisdikbud, publik menunggu bukan hanya program-program besar, tetapi juga sentuhan kecil yang mengubah masa depan banyak anak di sudut-sudut desa. (01)


.gif)