Bank Jateng: Saatnya Menyatu dengan Nadi Ekonomi Rakyat

Apakah kredit mikro itu betul-betul sampai ke tangan-tangan pekerja gigih yang tidak punya agunan tetapi punya usaha?
Kita butuh lebih dari sekadar neraca kinclong. Kita butuh reposisi strategis.

Direksi dan komisaris baru harus menjawab tantangan zaman: digitalisasi menyeluruh, pembiayaan sektor produksi mikro, dan yang paling penting—kehadiran yang terasa hingga ke level kelurahan dan dusun.

Tak cukup hanya melayani ASN dan proyek daerah. Bank Jateng harus menjadi jantung ekonomi lokal , bukan menara gading.

Tak Hanya Pandai Berhitung

Irianto Harko Saputro menjanjikan arah baru. Dalam pernyataannya, ia menyebut akan mendorong digitalisasi dan penguatan keuangan pemerintah daerah. Baik. Tapi mari kita awasi apakah ini bukan sekedar narasi rutin arah baru, melainkan langkah yang benar-benar menembus batas kompetensi dan ketakutan risiko.

Sebagai bank milik rakyat Jawa Tengah, Bank Jateng harus menjadi institusi keuangan yang bukan hanya mampu menghitung, tapi juga menghargai usaha kecil. Bukan hanya tempat parkir dana pemerintah, tapi juga penggerak produktivitas rakyat.

Kini, bola ada di tangan direksi. Apakah Bank Jateng akan jadi alat percepatan PAD sekaligus penguat UMKM?

Atau tetap nyaman sebagai institusi konservatif yang puas dengan status quo?
Masyarakat akan menilai bukan dari pidato, tetapi dari bunga pinjaman, syarat agunan, akses digital, dan kehadiran nyata di pasar-pasar rakyat. (01)


 

By Op1

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *