Catatan : Bambang Sartono
TERPILIHNYA kembali Heri Purnomo, wartawan iNews.ID sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Blora untuk periode 2025–2028 pada Konferensi Kabupaten (Konferkab), Sabtu (26/7/2025), disambut penuh apresiasi oleh jajaran pengurus PWI Jawa Tengah.
Pelantikan yang berlangsung di ruang Setda Blora itu menjadi penanda berlanjutnya kepemimpinan lama yang mendapat legitimasi melalui proses demokratis—meski harus melalui tiga kali pemungutan suara dan forum musyawarah.
Namun di balik kesuksesan seremoni pelantikan dan sambutan normatif dari para pejabat, terselip kegelisahan mendalam yang tak bisa terus-menerus disembunyikan: kondisi pers dan jurnalisme di Blora yang tengah tidak baik-baik saja.
Realitas lapangan menunjukkan bahwa ekosistem media lokal justru sedang dibanjiri oleh praktik jurnalisme tak layak—baik secara etik, legalitas, maupun kompetensi.
Mitra Kritis atau Cermin Retoris?
Dalam sambutannya, Bupati Blora Arief Rohman secara terbuka mengajak PWI Blora untuk menjadi mitra “kritis dan konstruktif.” Ia menekankan pentingnya pers sebagai pilar keempat demokrasi yang mampu menyampaikan informasi faktual, edukatif, serta menjalankan fungsi kontrol sosial atas jalannya pembangunan.
Namun, pernyataan itu menghadirkan paradoks ketika disandingkan dengan realitas sebagian besar media di Blora hari ini. Pers lokal kerap tampil sekadar menjadi perpanjangan tangan agenda humas institusi, bukan kekuatan keempat yang menjaga akuntabilitas kekuasaan.
Banyak berita yang tayang bukan hasil investigasi atau verifikasi, melainkan potongan siaran pers yang dibumbui headline sensasional tanpa bobot kritis. “Pers yang mencerdaskan,” kata Bupati, adalah harapan. Tapi di Blora, sebagian masyarakat justru semakin skeptis terhadap media.
Banyak yang menganggap media hanya aktif saat ada proyek, bansos, atau ketika pemiliknya punya kepentingan ekonomi tertentu.
Wartawan Instan dan Pseudo-Media
Lebih jauh, ekosistem media Blora juga dirasuki praktik jurnalisme yang tidak berbasis standar profesi. Munculnya wartawan “instan” tanpa media resmi, tidak memiliki kompetensi dasar, namun tetap membawa atribut pers ke lapangan, telah menciptakan iklim yang merusak citra jurnalis sejati.


.gif)