PPI Jateng 2025 di Blora: Ramai di Agenda, Sepi di Gaung

 

Kolom : Redaksi Opini Publik

PAMERAN Produk Inovasi (PPI) Jawa Tengah 2025 resmi dibuka oleh Gubernur Jateng Ahmad Lutfhi melalui acara seremonial di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora dan di Lapangan Kridosono, Blora, 26–28 September. Agendanya padat—dari Krenova, Idea Jateng, Festival Blora Inovasi, seminar nasional, hingga QRIS Fest.

Namun gaungnya tidak berbanding lurus dengan kemewahan rundown. Apresiasi pengunjung tidak meledak, tampilan peserta terasa generik, dan impresi keseluruhan menyerupai pameran rutin yang mudah dilupakan. Pertanyaannya sederhana: mengapa panggung “inovasi” justru gagal memproduksi rasa ingin tahu publik?

Inovasi Tanpa Orkestra

Ada tiga simpul masalah dibalik tidak gascor PPI Jateng di Blora ini. Pertama : kurasi konten yang lemah. Inovasi ditampilkan sebagai daftar stan, bukan narasi terkurasi. Tanpa “alasan memilih” (why this, why now, why here), stan menjadi katalog statis. Inovasi yang berdiri sendiri-sendiri kehilangan daya jual sebagai solusi yang menjawab masalah publik Blora—air, pangan, energi, pelayanan izin, dan keselamatan lingkungan.

Kedua : absennya momen puncak yang layak diberitakan. Panggung inovasi butuh “breaking points”: demo teknologi yang memecahkan masalah riil, penandatanganan kemitraan B2B ( Business-to-Business) yang terukur nilainya, peluncuran layanan publik baru yang langsung bisa dipakai warga. Tanpa puncak, tidak ada alasan organik bagi media maupun warganet untuk mengangkatnya.

Ketiga : aktivasi publik yang dangkal. Senam massal dan CFD menambah ramai, tetapi tidak otomatis menambah relevansi. Aktivasi yang efektif harus mendorong konversi: unduh aplikasi layanan, transaksi UMKM, pendaftaran uji coba teknologi, atau janji temu bisnis. Tanpa mekanisme konversi, keramaian fisik tidak berubah menjadi dampak ekonomi maupun layanan.

Standar Akuntabilitas

Jika PPI dimaksudkan sebagai lokomotif inovasi daerah, panitia dan pemerintah wajib menampilkan indikator kinerja harian dan pasca-acara, minimal: Footfall   (jumlah orang yang melintas/masuk ke suatu area atau lokasi ) per hari, dwell time rata-rata, dan pola kunjungan per segmen (pelajar, pelaku usaha, ASN, investor).

Transaksi (jumlah & nilai) via QRIS/EDC, dibagi sektor (kuliner, kriya, hortikultura, teknologi). Leads B2B terverifikasi: jumlah temu bisnis, nilai MoU/LoI, dan tindak lanjut 30–90 hari. Onboarding layanan publik: jumlah akun baru, permohonan perizinan yang diproses di tempat, SLA yang dipangkas.


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *