Gebrakan penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Pati kian masif dan terukur. Melalui program TOSS (Temukan, Obati, Sampai Sembuh), memutus rantai penularan hingga ke lingkup keluarga.
PATI, OPINI PUBLIK.CO – Kabupaten Pati kini berada di garis depan dalam upaya eliminasi Tuberkulosis (TB) nasional. Kunjungan Wakil Menteri Kesehatan, Dr. Benyamin Paulus Oktavianus, Sp.P (K) bersama Anggota DPR RI Komisi IX, Dr. Edy Wuryanto, ke Kecamatan Kutoharjo menegaskan komitmen kuat bahwa penanganan TB harus dilakukan secara sistematis, masif, dan menyentuh akar persoalan.

Program TOSS yang dijalankan di Pati menunjukkan skala intervensi yang signifikan. Tidak hanya menelusuri penderita, tetapi juga menjangkau lingkaran terdekat mereka.
Dr. Edy Wuryanto memaparkan secara rinci capaian kegiatan tersebut: “Tracing penderita TBC di Pati mencapai 2.658 orang. Jika setiap pasien memiliki rata-rata lima kontak erat, maka total yang kami telusuri mencapai sekitar 13.290 orang. Ini adalah upaya besar untuk memutus rantai penularan dari hulu,” ungkapnya.
Pendekatan yang digunakan pun berbeda dari layanan kesehatan konvensional. Pemeriksaan tidak lagi terpusat di fasilitas kesehatan formal, melainkan mendekat ke masyarakat. “Tracing meliputi pemeriksaan menggunakan mobil rontgen dan TCM atau tes cepat molekuler. Pelaksanaannya tidak di puskesmas atau rumah sakit, tetapi langsung di balai desa atau kantor kecamatan yang dekat dengan penderita,” jelasnya.
Dalam implementasinya, setiap titik layanan ditargetkan mampu memeriksa hingga 100 orang per hari.
“Satu titik ditargetkan pemeriksaan rontgen 100 orang, sehingga di Pati dilaksanakan sekitar 130 titik kegiatan yang tersebar di seluruh wilayah,” tambahnya.
Lebih jauh, Edy menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada deteksi. Penanganan dilakukan secara menyeluruh sesuai hasil diagnosis. “Jika penderita dinyatakan positif dari hasil rontgen dan TCM, maka langsung dilakukan pengobatan sesuai program hingga sembuh. Sedangkan kontak erat yang hasilnya negatif tetap diberikan terapi pencegahan TBC, di mana mereka minum obat seminggu sekali,” tegasnya.
Aspek lingkungan juga menjadi perhatian serius dalam strategi ini. Kondisi hunian yang tidak sehat dinilai berkontribusi terhadap lambatnya proses penyembuhan.
“Penderita TBC yang rumahnya tidak layak—dari sisi pencahayaan, ventilasi, lantai lembap—dan masuk desil 1 sampai 4, akan diberikan bantuan bedah rumah,” ujarnya.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dilakukan secara serentak untuk menciptakan dampak yang signifikan dalam waktu relatif singkat.“Kegiatan ini dilakukan bersamaan agar ke depan jumlah penderita TBC di Pati bisa turun drastis, bahkan menuju zero kasus,” tandasnya optimistis.


.gif)