TANJUNG, DESA TEGUH DI TAPAL BATAS: Membangun Harapan dari Ladang dan Kearifan

Subakri Kades Tanjung Kedungtuban, Blora

“Subakri dari guru desa hingga pemimpin yang menenun kemajuan dengan gotong royong dan hati nurani”

KEDUNGTUBAN, WJI.NETWORK Di ujung selatan Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, terdapat sebuah desa yang mungkin tak banyak dikenal, tapi menyimpan teladan tentang kerja senyap yang membuahkan hasil.

Desa itu bernama Tanjung. Bukan desa wisata, bukan pula kawasan industri. Tapi justru dari keterbatasan itulah muncul kekuatan: kemandirian, kerja keras, dan kebersamaan yang kokoh.

Di desa yang sederhana itu, berdirilah seorang pemimpin dengan akar pengabdian panjang—Subakri, lahir 16 Mei 1956, mantan guru sekolah dasar yang puluhan tahun mengajar dengan penuh kesabaran, kini menyalurkan semangat yang sama ke dalam kerja-kerja pembangunan desa.

Kades Tanjung Subakri saat dilantik oleh Bupati Blora H Arief Rohman

Sejak purnatugas pada 2016, ia memilih tidak beristirahat di usia senja. Sebaliknya, ia menjawab panggilan warga untuk memimpin, bukan dengan janji-janji politik, tetapi dengan keteladanan.

“Bagi saya, pemimpin bukan untuk dihormati, tapi harus hadir dan bekerja. Jika rakyatnya bahagia, itulah keberhasilan,” ujarnya kepada S.Wijanarko dari Opini Publik.Co (WJI Network) di balai desa Tanjung, Sabtu (21 Juni 2025)

Berakar pada Pertanian dan Semangat Kolektif

Desa Tanjung tidak bisa dilepaskan dari identitas pertaniannya. Lahan-lahan sawah terbentang luas, menjadi sandaran hidup mayoritas warganya. Di bawah koordinasi kelompok tani yang solid, Subakri berhasil mengangkat citra Tanjung sebagai desa dengan pertanian yang maju dan produktif.

Salah satu program yang menonjol adalah pengembangan ayam petelur yang dikerjakan warga secara kolektif. Desa ini bahkan mendapat alokasi hingga 88 unit program unggulan dari kabupaten—sebuah pengakuan terhadap produktivitas dan keseriusan petani Tanjung.

“Kelompok tani kami tidak hanya aktif, tapi benar-benar menjadi penggerak. Saya jaga agar mereka tidak kehilangan semangat dan arah,” ujar Subakri.

Ketersediaan air, teknologi pertanian, dan pola tanam terpadu menjadi bagian dari diskusi rutin antara pemerintah desa dan para petani. Subakri memastikan bahwa hasil pertanian tidak sekadar panen, tapi bisa membawa dampak sosial-ekonomi yang konkret bagi warga.

Keamanan Sosial dan Kerukunan yang Terjaga


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *