MUSRENBANG Blora : BAHAS STRATEGI Terpadu PENANGANAN STUNTING

Wakil Bupati Blora Hj Sri Setyorini saat membuka Musrembang Strategi terpadu Penanganan Stunting di Blora di Aula Kantor Bapperida
Peserta Musrenbang Strategi Terpadu Penanganan Stunting di Blora

Upaya percepatan penurunan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Intervensi gizi sensitif yang berkontribusi hingga 70 persen melibatkan berbagai sektor pembangunan.

Beberapa instansi yang berperan antara lain Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Perumahan dan Permukiman, Dinas Kominfo, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, hingga Kementerian Agama, BKKBN, dan BPOM.

Kolaborasi lintas sektor tersebut mencakup berbagai program seperti peningkatan akses air bersih dan sanitasi, edukasi gizi, penguatan UKS di sekolah, pencegahan pernikahan usia dini, hingga kampanye pola makan sehat bagi ibu hamil dan remaja putri.

Targetkan Bebas Stunting

Dalam paparannya, Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Blora telah menyusun analisis situasi stunting sebagai bagian dari persiapan Musrenbang Tematik Stunting 2026.

Ia menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus produktivitas daerah.

“Sesarengan Wujudkan Blora Bebas Stunting untuk Mendukung Peningkatan Produktivitas Daerah,” tegas Sri Setyorini.

Berdasarkan data kependudukan tahun 2025, jumlah penduduk Kabupaten Blora mencapai 960.117 jiwa. Sementara itu, berdasarkan aplikasi SigiziKesga, prevalensi stunting hingga Agustus 2025 tercatat 6,15 persen dengan jumlah 2.776 balita stunting, terdiri dari 629 baduta (0–23 bulan) dan 2.147 balita usia 24–59 bulan.

Anggaran Rp56,79 Miliar

Untuk memperkuat upaya pencegahan stunting, Pemkab Blora telah menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp56,79 miliar pada 2026.

Anggaran tersebut akan digunakan untuk memperkuat berbagai program prioritas, seperti penguatan layanan posyandu, peningkatan akses layanan kesehatan ibu dan anak, intervensi gizi spesifik dan sensitif, serta kampanye edukasi kepada masyarakat.

Sri Setyorini menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, penguatan peran masyarakat, serta pendanaan yang berkelanjutan.

Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Blora optimistis mampu mewujudkan visi “Blora Bebas Stunting” sekaligus menciptakan generasi yang sehat, berkualitas, dan produktif di masa depan. (@bagus PW)


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *