“Kami bukan pelengkap. Kami adalah penjaga nyala semangat Pramuka di desa ini. Bukan hanya mendampingi, tapi terlibat penuh. Karena di tangan anak-anak ini, masa depan bangsa dititipkan,” ucapnya disambut tepuk tangan hangat hadirin.
Kak Alma dan Misi Menyatukan Langkah
Sementara Ketua Kwarran Kedungjati yang baru, Kak Alma Wiyarti, S.Pd., adalah sosok guru yang selama ini dikenal akrab dengan para pembina di gugus depan. Dalam sambutan perdananya, ia tak berbicara tentang program, tapi tentang harapan.
“Saya percaya, tidak ada yang lebih kuat daripada tim yang saling percaya dan mendukung. Mari kita jadikan Kwarran ini ruang kolaborasi, bukan sekadar struktur. Karena karakter tidak dibentuk oleh kata-kata, tapi oleh keteladanan dan kebersamaan,” katanya penuh haru.
Sinergi Adalah Kunci
Pelantikan ini menyatukan harapan dari berbagai pihak. Forkompinca hadir bukan sekadar sebagai tamu, tapi juga sebagai bagian dari gerakan. Anak-anak Pramuka dari berbagai gugus depan ikut menyaksikan, mungkin belum sepenuhnya memahami makna pelantikan, tetapi atmosfer semangat itu mereka rasakan.
Gerakan Pramuka di Kedungjati kini memasuki fase baru: sinergi lintas elemen, dari pemerintahan, sekolah, hingga komunitas lokal. Di tengah arus digital dan tantangan nilai, mereka memilih tetap menyalakan obor dari desa — bukan untuk sekadar menerangi ruang kecil, tapi untuk menjadi percikan cahaya bagi masa depan bangsa.
Di tengah hiruk pikuk zaman yang kerap membingungkan arah moral generasi muda, pelantikan ini menjadi pengingat bahwa kerja-kerja sunyi di ranting desa adalah investasi jangka panjang bagi negeri.
“Dari Kedungjati, kita mulai lagi. Bukan dengan gegap gempita, tapi dengan tekad yang tak bisa dipadamkan,” pungkas Kak Agus Siswanto menutup acara dengan nada harap yang dalam. (Wid/01)


.gif)