Pemetaan dan Database Atlet.
Setelah turnamen, semua peserta harus dicatat. Data ini penting untuk pemantauan dan pelatihan berjenjang.
Pembentukan Akademi atau Pusat Pelatihan Terpadu.
Blora membutuhkan pusat pelatihan yang representatif, bisa dikelola di bawah Dispora atau kerja sama dengan TNI/Polri dan swasta.
Penyelenggaraan Liga Kabupaten Berkala.
Liga tahunan minimal antar-kecamatan harus dibuat. Format home-away bisa mendorong kehidupan ekonomi desa sekaligus memperkuat ikatan sosial.
Kurikulum Olahraga di Sekolah yang Berbasis Talenta Lokal.
Guru olahraga harus diberdayakan dan dilibatkan dalam seleksi bakat usia dini secara sistematis.
Peran Swasta dan BUMD
, Perusahaan seperti Pertamina EP Cepu, PGN, hingga Bank Jateng bisa digandeng untuk Corporate Social Responsibility (CSR) , bidang olahraga.
Tak Gagal Jaga Energi Daerah
Turnamen seperti Kapolres Cup seharusnya jadi titik mula , bukan titik akhir. Jika tidak diikuti langkah selanjutnya, maka potensi voli Blora hanya jadi bahan nostalgia.
Jangan biarkan semangat muda di lapangan redup oleh sistem yang lemah. Sudah saatnya Blora menjadikan olahraga sebagai alat pembangunan sosial dan identitas daerah. (***)


.gif)