Nur Fatwah juga menekankan pentingnya penguatan nilai gotong royong sebagai identitas bangsa. “Ikut kerja bakti, membantu sesama, dan menjaga kebersamaan adalah bentuk nyata bela negara. Kita tidak boleh kehilangan jati diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi solidaritas,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa bela negara harus diinternalisasi melalui peran masing-masing. “Sebagai pelajar, orang tua, pekerja, maupun pemimpin, kita punya tanggung jawab. Menjalankan peran dengan baik adalah kontribusi nyata untuk kemajuan bangsa,” tambah Hj. Nur.
Disisi lain Nur Fatwah menyoroti pentingnya literasi digital dan penguatan karakter berbasis nilai Pancasila. “Generasi muda harus dibekali kemampuan menyaring informasi. Cinta tanah air harus diwujudkan dengan bangga menggunakan produk lokal, menjaga nama baik bangsa, dan menghargai perbedaan,” jelasnya.
Sebagai Sikap
Dibagian lain anggota Komisi A DPRD Jateng itu menegaskan bahwa bela negara adalah sikap dan kemauan setiap warga untuk mencintai dan menjaga Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
“Bela negara bukan hanya tugas tentara atau aparat keamanan. Setiap warga punya peran melalui tindakan sederhana seperti hidup rukun, belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, serta menjaga persatuan,” tandasnya.
Ia mengingatkan bahwa rasa cinta tanah air harus terus ditumbuhkan agar Indonesia tetap aman, damai, dan maju.
FGD yang digelar Kesbangpol Jateng ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan legislatif dalam membumikan nilai bela negara di tengah masyarakat. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, diharapkan semangat persatuan, disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian sosial dapat semakin mengakar dalam kehidupan sehari-hari.
Bela negara, pada akhirnya, bukan sekadar slogan. Ia adalah komitmen kolektif untuk menjaga Indonesia, dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal sederhana, dan dari lingkungan terdekat. (@bangsar/01)


.gif)