Jembatan Kudur bukan sekadar penghubung Desa Pelem Gede dengan satu atau dua wilayah. Ia menjadi akses inti menuju desa Soko, Puluhan, Tretek, Mencon, Kletek, hingga jalur ke Blora. Jalur ini adalah nadi ekonomi yang mempertemukan hasil bumi, jasa, serta mobilitas pekerja.
Menurut Camat Puncakwangi Udhi H. Nugroho, hilangnya jembatan selama berbulan-bulan membuat aktivitas warga mengalami perlambatan yang signifikan.
“Konektivitas ini sangat vital. Dengan diresmikannya kembali jembatan, kami yakin pergerakan ekonomi akan pulih,” ujarnya.
Mengawal Harapan Baru
Kehadiran 19 kepala desa dalam peresmian menunjukkan bagaimana jembatan ini menyentuh banyak wilayah sekaligus. Para kepala desa selama ini menjadi jembatan komunikasi antara warga dan pemerintah dengan membawa berbagai keluhan terkait dampak kerusakan jembatan.
Kini, setelah pembangunan selesai, mereka berharap pemulihan ekonomi dapat berjalan cepat. “Ini akses utama kami. Kehadirannya kembali sangat membantu,” kata salah satu kades yang hadir.
Secara fisik, jembatan yang kini diresmikan dibangun dengan pondasi dan struktur beton lebih kuat dibanding jembatan lama. Pendekatan konstruksi ini disesuaikan dengan risiko bencana hidrologi yang semakin sering terjadi.
Perwakilan Dinas PU menyampaikan bahwa desain jembatan telah diperbarui agar lebih tahan terhadap erosi dan debit air tinggi.
“Kami ingin jembatan ini tidak hanya kuat hari ini, tetapi juga aman untuk beberapa dekade ke depan,” katanya.
Konektivitas Kehidupan
Bagi masyarakat Puncakwangi dan Pelem Gede, jembatan bukan hanya konstruksi fisik. Ia adalah bagian dari denyut hidup. Tempat anak-anak berangkat ke sekolah, petani mengirim hasil panen, warga menuju pusat layanan kesehatan, dan pedagang mengakses pasar antarwilayah.
Infrastruktur yang sempat lumpuh kini hidup kembali. “Dengan dibukanya kembali jembatan ini, semoga roda ekonomi warga pulih, kegiatan sosial kembali lancar, dan masyarakat bisa lebih berkembang,” tegas Bupati Sudewo (Karyono/01)


.gif)