MUSRENBANG Blora : BAHAS STRATEGI Terpadu PENANGANAN STUNTING

Wakil Bupati Blora Hj Sri Setyorini saat membuka Musrembang Strategi terpadu Penanganan Stunting di Blora di Aula Kantor Bapperida

Targetkan Penurunan Signifikan hingga 2030

BLORA, OPINI PUBLIK.CO : Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini menegaskan komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Blora untuk menekan angka stunting melalui gerakan bersama lintas sektor.

Dalam forum Musrenbang Tematik Stunting yang digelar di Gedung Bapperida, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan bergerak serentak mewujudkan target besar daerah.

“Sesarengan wujudkan Blora bebas stunting untuk mendukung peningkatan produktivitas daerah. Ini bukan hanya tugas sektor kesehatan, tetapi tanggung jawab kita bersama,” tegas Sri Setyorini, seraya menekankan pentingnya kolaborasi, penguatan posyandu, intervensi gizi, serta peningkatan kesadaran masyarakat dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Blora.

Wabub Blora Hj. Sri Setyorini bersama pimpinan OPD dalam Musrenbang Penangnan Terpadu Stunting Di Blora

Pemerintah Kabupaten Blora terus memperkuat komitmen dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting yang digelar di ruang pertemuan Gedung Bapperida. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta pemangku kepentingan lintas sektor yang terlibat dalam program penanganan stunting.

Musrenbang tematik ini menjadi ruang konsolidasi perencanaan sekaligus evaluasi berbagai program intervensi yang telah berjalan, sekaligus merumuskan strategi terpadu untuk mencapai target percepatan penurunan stunting di Kabupaten Blora.

Menjadi Tantangan

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Provinsi Jawa Tengah tercatat 17,1 persen, turun 3,6 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 20,7 persen. Meski sudah berada di bawah angka 20 persen, upaya serius tetap diperlukan untuk mencapai target RPJMD sebesar 13 persen pada 2030 serta target jangka panjang 5 persen pada 2045.

Data SSGI 2024 juga menunjukkan masih terdapat 10 kabupaten dengan prevalensi stunting di atas 20 persen, di antaranya Temanggung (27,3 persen), Grobogan (25,6 persen), Boyolali (24,5 persen), Wonosobo (23,9 persen), Brebes (23,1 persen), Purbalingga (22,3 persen), Blora (21,7 persen), Klaten (20,8 persen), Batang (20,7 persen), dan Banjarnegara (20,6 persen).

Secara keseluruhan, jumlah balita stunting di Jawa Tengah pada 2024 mencapai 346.006 anak, dengan hampir 50 persen terkonsentrasi di 11 kabupaten/kota.

Sementara itu, data rutin ePPGBM menunjukkan tren persentase stunting di Jawa Tengah relatif stabil, yakni 10,50 persen pada 2023, 9,85 persen pada 2024, dan 10,24 persen pada 2025. Hingga Januari 2026, angka tersebut tercatat 9,65 persen.

Strategi Intervensi

Dinas Kesehatan menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting dilakukan melalui 11 program intervensi yang mencakup intervensi gizi spesifik dan sensitif.

Intervensi gizi spesifik difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari remaja putri, ibu hamil, hingga balita. Program ini mencakup konsumsi tablet tambah darah (TTD), skrining anemia pada remaja putri, pelayanan antenatal care (ANC), pemberian makanan tambahan (PMT), hingga pemantauan tumbuh kembang balita.

Secara umum, sejumlah indikator di Jawa Tengah telah mencapai target, seperti konsumsi TTD pada remaja putri 89,34 persen, skrining anemia 90,58 persen, serta pelayanan ANC enam kali pada ibu hamil 91,46 persen.

Namun beberapa indikator masih membutuhkan perhatian, seperti pemberian PMT bagi ibu hamil yang baru mencapai 71,72 persen, serta cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Blora yang masih 72,96 persen.

Sementara pada intervensi balita, capaian pemberian MPASI sudah mencapai 93,66 persen, namun pemberian PMT bagi balita gizi kurang baru mencapai 59,81 persen.

Sangat Krusial


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *