Tak lama setelah pengumuman, pasar finansial langsung bereaksi. IHSG turun sekitar 1–1,3 persen, menandakan kegelisahan investor terhadap hilangnya figur Sri Mulyani yang selama ini dikenal disiplin fiskal. Rupiah sempat menguat tipis 0,7 persen, lalu kembali stabil.
Lembaga riset internasional memberi peringatan. Capital Economics menyoroti risiko longgarnya disiplin anggaran, sementara Natixis mengingatkan potensi defisit jika belanja sosial ditingkatkan tanpa keseimbangan penerimaan negara. Namun, Purbaya menanggapi dengan optimisme: ia menyebut pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen bukan hal mustahil, asal ada keberanian melibatkan sektor swasta dan peran aktif pemerintah.
Tantangan di Depan Mata
Pertanyaan mendasar muncul: apakah reshuffle ini akan membuka ruang reformasi kebijakan, atau justru memperlebar jurang ketidakpastian?
Momentum Reformasi: Figur baru di kabinet bisa menghadirkan energi segar untuk memperkuat legitimasi pemerintah, terutama dengan agenda ekonomi rakyat, perlindungan pekerja migran, serta pembenahan tata kelola koperasi.
Risiko terbesar terletak pada kapasitas teknokratis menteri baru. Jika lebih condong ke politik daripada keahlian teknis, pemerintah bisa kehilangan kredibilitas di mata investor maupun rakyat.
Beban kerja kabinet hasil reshuffle ini berat: meredam kegelisahan publik, menjaga stabilitas fiskal, dan mengembalikan kepercayaan pasar. Purbaya Yudhi Sadewa, misalnya, harus segera membuktikan diri dalam hitungan minggu pertama, bukan bulan.
Seperti ditegaskan ekonom Piter Abdullah, pasar hanya menunggu tindakan nyata—apakah disiplin anggaran tetap dijaga atau justru dikorbankan demi populisme jangka pendek.
Perombakan kabinet kali ini adalah ujian politik pertama yang serius bagi Presiden Prabowo. Pergantian lima menteri bukan hanya soal mengganti nama, tetapi tentang arah baru kebijakan, keseimbangan antara kepentingan politik dan ekonomi, serta kapasitas untuk menjaga kepercayaan rakyat.
Reshuffle bisa menjadi momentum reformasi besar, tapi juga berpotensi menjerumuskan pemerintah ke jalan berliku jika tidak diikuti langkah konkret. Publik dan pasar kini menunggu: apakah kabinet baru ini akan benar-benar bekerja untuk rakyat, atau sekadar menambal kegaduhan? (RED/@bangsar)


.gif)