Bisnis Media Jadi Kunci
Ketua Dewan Pers, Prof. Komaruddin Hidayat, dalam sambutannya menekankan pentingnya ekosistem media yang kuat di tengah perubahan zaman. Menurutnya, kebutuhan manusia terhadap informasi kini setara dengan kebutuhan akan udara dan air.
“Makanya siapa yang bisa mengemas bisnis informasi itu pasti sukses karena di manapun orang juga informasi bahkan peradaban ini kan bermula dari pada awalnya dalam ide. Semua peradaban itu bermula dari ide-ide,” ujarnya.
Sementara itu, Dewan Pakar JMSI, Hendry Ch. Bangun, menyoroti menurunnya pemerataan kualitas wartawan setelah berakhirnya pola pelatihan intensif seperti workshop di masa lalu. Ia menilai uji kompetensi wartawan (UKW) saja belum cukup untuk memastikan standar yang sama di berbagai daerah.
“Sekarang ada uji kompetensi wartawan (UKW) memangnya sama kualitas wartawan utama di Sulawesi, Sumatera, Jawa? karena hanya uji kompetensi enggak ada workshop. Kalau dulu namanya upgrading,” katanya.
Hendry mendorong adanya amandemen UU Pers agar pemerintah memiliki ruang lebih konkret dalam memberdayakan media, termasuk melalui pelatihan rutin bagi wartawan di seluruh Indonesia.
“Jadi teman-teman sekalian, kita harus terus menyuarakan agar pemerintah berkontribusi minimal memberi pelatihan katakanlah 1.000 wartawan dalam satu tahun, enggak banyak, mungkin enggak sampai Rp 1 triliun, di situ lalu kita bicara mengenai nasionalisme kebangsaan,” ujarnya.
Ia menegaskan, penguatan kapasitas wartawan dan keberlanjutan bisnis media menjadi kunci untuk memperkokoh kualitas jurnalisme nasional dan menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah derasnya arus informasi digital.
Dengan dikukuhkannya Pengurus Pusat JMSI 2025–2030, diharapkan organisasi ini mampu menjadi salah satu pilar penting dalam membangun ekosistem media yang sehat, berintegritas, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global (Red/01)


.gif)