“Siapa yang butuh, ada barangnya. Sudah kondusif dan maksimal,” tegas Soyono .
Lebih Religius
Namun yang tak kalah mencolok adalah perubahan nilai spiritual warga. Yang dulunya sepi dari kegiatan religius, kini warga Botoreco aktif puasa sunnah bersama, menyantuni anak yatim setiap tanggal 10, hingga rutin memperingati hari besar keagamaan.
“Dulu bapak-bapak enggan puasa sunnah, sekarang berlomba-lomba. Bahkan satu dukun satu kegiatan keagamaan. Ini bukan karena perintah, tapi karena contoh dan kebersamaan,” tambahnya.
Perubahan ini tidak hadir secara instan. Ia tumbuh seperti padi: dari benih, dirawat, diairi, dan akhirnya siap dipanen. Seperti filosofi petani, pembangunan desa adalah kerja sunyi namun pasti. Butuh waktu, namun hasilnya terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Desa Botoreco hari ini mungkin belum sempurna. Tapi ada yang lebih penting daripada kesempurnaan: arah dan harapan yang jelas. Dan itu sudah dimiliki, karena ada pemimpin yang berani memulai perubahan dari hal yang paling sederhana—dari warung kopi dan sawah, dari hati ke hati.
Dalam setiap langkahnya, Soyono dan warganya sedang menulis lembaran baru sejarah desa: sebuah kisah tentang harmoni, keberdayaan, dan desa yang membangun dari dalam. (*/01)


.gif)