“Ngopi Bareng dan Ladang Harapan: Suyono Membangun Botoreco yang Lebih Religius

Suyono Kepala Desa Botoreco, Kec. Kunduran Blora bersama wartawan Opini Publik. WJI Network

KUNDURAN, OPINI PUBLIK.CO Dalam bentangan sawah yang menghijau di wilayah Kunduran, Blora, tersembunyi kisah perubahan sebuah desa yang dulu kerap dilanda gesekan sosial. Namun semua berubah ketika seorang pengusaha mebel bernama Soyono memutuskan pulang kampung yang tidak sekadar untuk tinggal, melainkan untuk membangun peradaban dari akar dan dimulai dari desa tempat ia dilahirkan: Desa Botoreco.

Saat pagi baru menjelang, dan embun masih setia menempel di daun padi, Soyono—laki-laki kelahiran 25 April 1975—sudah berdiri di tepi jalan desa. Matanya memandang ke ladang, ke arah masa depan yang sedang ia rajut bersama warganya. Ia tidak sekadar kepala desa; ia adalah pelaku perubahan yang berjalan bersama rakyatnya.

Dulu, Botoreco adalah desa yang tidak tenang. Sembilan dukuhnya seperti sembilan rumah yang berjalan sendiri-sendiri. Perselisihan antar-pemuda bukan hal asing. Namun kini, yang terdengar justru canda dan ide di tengah acara ngopi bareng rutin setiap empat bulan.

Di situ, tidak ada jarak antara pemerintah desa, pemuda, dan tokoh masyarakat. Semua duduk sejajar, mengopi, dan menyepakati satu hal: desa harus damai agar masa depan bisa dirajut,

“Kalau dulu sering ribut, sekarang sudah rukun. Kita bentuk ruang temu. Ngopi bareng jadi jembatan hati,” kata Soyono bertutur pada S.Wijayanto wartawan Opini Publik, WJI Network.

Bukan hanya dari sisi sosial, di tangan Soyono, pertanian Botoreco bangkit menjadi tulang punggung desa. Dengan wilayah terluas di Kecamatan Kunduran, Botoreco memaksimalkan potensi padi, jagung, dan tebu.

Meski tantangan muncul—seperti tembakau yang tergilas curah hujan tinggi—warga tetap bergerak, karena keyakinan sudah digerakkan oleh pemimpinnya.

Salah satu isu paling krusial yang berhasil dituntaskan adalah ketersediaan pupuk. Dulu, kelangkaan dan permainan distribusi membuat warga frustrasi. Kini, pupuk tersedia tepat saat dibutuhkan. Tak ada lagi suara keras protes di balai desa.


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *