Ruwatan juga merupakan wujud syukur. Namun, rasa syukur atas jabatan tidak cukup diucapkan melalui doa. Syukur harus diwujudkan dalam kerja politik yang bersih, terbuka, dan bertanggung jawab.
Rakyat tidak membutuhkan sesaji politik. Rakyat membutuhkan jalan yang layak, pelayanan publik yang cepat, pendidikan yang terjangkau, lapangan kerja, serta pengawasan terhadap setiap rupiah anggaran daerah.
Itulah persembahan paling nyata dari lembaga perwakilan kepada masyarakat.
Kepercayaan publik tidak lahir dalam satu malam pagelaran. Ia dibangun melalui proses panjang, dari keputusan yang adil, sikap yang konsisten, hingga kesediaan mendengar suara masyarakat yang paling lemah.
Karena itu, setelah gamelan berhenti berbunyi dan prosesi ruwatan selesai, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai.
DPRD Blora harus membuktikan bahwa ruwatan bukan hanya upacara membersihkan sukerta, tetapi juga keberanian membersihkan praktik politik dari kepentingan sempit. Bukan sekadar menolak bala, melainkan mencegah lahirnya bala baru akibat kelalaian kekuasaan.
Pada akhirnya, lembaga dewan tidak akan kehilangan kehormatan karena kritik. Kehormatan justru runtuh ketika kritik tidak lagi didengar.
Ruwatan terbaik bagi DPRD Blora adalah mengembalikan kekuasaan kepada tujuan awalnya: melayani, mengawasi, dan menjaga amanah rakyat. (*)


.gif)