KEKERINGAN, dan Jejak Politik ‘PERI AIR’

Padmasari Mestikajati, SIP, MSi Anggota DPRD Privinsi Jateng
BLORA, OPINI PUBLIK.CO : Setiap kali mendengar kata Blora dan kekeringan, ingatan Padmasari Mestikajati seperti ditarik kembali ke desa-desa yang pernah didatanginya. Jalan berdebu, sumur mengering, jeriken berderet, serta warga yang menunggu suara mesin mobil tangki air menjadi fragmen perjalanan politik yang sulit dilupakannya.
Padmasari bersama pemeteri dan peserta Kegiatan pelayanan Informasi Rawan Bencana Provinsi Jateng di Ds Pelem Blora Kota

 Bagi perempuan yang akrab disapa Padma itu, Blora bukan sekadar wilayah pemilihan. Kabupaten di ujung timur Jawa Tengah tersebut menyimpan jejak keluarga, kegagalan, perjuangan, sekaligus awal keberhasilannya menembus Gedung Berlian—sebutan bagi kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah.

“Blora bagi saya bukan sekadar daerah pemilihan. Di sini ada jejak ayah saya, ada perjalanan politik saya, dan ada tanggung jawab yang selalu memanggil saya untuk kembali,” tutur Padma.

Politikus perempuan Partai Golkar tersebut kini menjalani periode keduanya sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Daerah Pemilihan Blora–Grobogan. Ia bertugas di Komisi E yang membidangi pendidikan, kebudayaan, sosial, dan kesejahteraan masyarakat.

Namun, jalan Padma menuju parlemen provinsi tidak selalu mulus. Pada Pemilu 2014, langkahnya sempat terhenti. Kegagalan itu tidak membuatnya meninggalkan gelanggang politik. Ia kembali menyusuri desa, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta mengenali persoalan yang hidup di tingkat paling bawah.

Upaya tersebut membawanya lolos menjadi anggota DPRD Jawa Tengah pada periode 2019–2024. Kepercayaan masyarakat kemudian berlanjut pada Pemilu 2024, sehingga Padma kembali mendapat mandat untuk masa jabatan 2024–2029.

Dapil Keramat

Blora–Grobogan memiliki arti khusus bagi Padma. Daerah pemilihan tersebut merupakan wilayah politik yang sebelumnya dirawat ayahnya, Bambang Sadono, politikus senior Golkar yang lebih dari dua dasawarsa berkecimpung dalam percaturan politik Jawa Tengah dan nasional.

Blora juga menjadi daerah kelahiran Bambang Sadono. Karena itu, memasuki desa-desa di Blora bukan hanya pekerjaan politik bagi Padma, melainkan perjalanan menyusuri jejak pengabdian ayahnya.

Ia menyebut Blora–Grobogan sebagai “daerah pemilihan keramat”. Bukan karena wilayah tersebut harus diperlakukan secara mistis, tetapi karena di sana tersimpan sejarah, kepercayaan masyarakat, serta tanggung jawab politik yang diwariskan lintas generasi.

“Dapil ini tidak boleh hanya dipahami sebagai wilayah untuk mencari suara. Ada sejarah panjang yang harus dijaga, ada kepercayaan masyarakat yang harus dibalas dengan kerja,” katanya saat usai jadi pembicara  dalam acara Sosialisasi Pelayanan Informasi Rawan Bencana Provinsi Tahun 2026 di Desa Pelem Kecamatan Blora Kota.

Jejak sang ayah memang menjadi pintu masuk. Namun, Padma memahami bahwa nama keluarga tidak akan cukup mempertahankan kepercayaan publik. Politik, menurutnya, harus dibuktikan melalui keberpihakan yang dapat dirasakan masyarakat.

Dua Wajah Bencana

Dalam ingatan Padma, Blora memiliki dua wajah bencana yang terus berulang. Ketika musim hujan datang, sejumlah wilayah menghadapi banjir. Ketika kemarau berlangsung panjang, desa-desa lain harus berhadapan dengan krisis air bersih.

Padmasari bersama Agung dan Tulus dua staf BPBD Kab. Blora sosok yang mitra karibnya dalam penanganan kebencanaan di Blora

Ironi tersebut menjadi penanda persoalan ekologis dan infrastruktur yang belum sepenuhnya terselesaikan.

“Kalau musim hujan, banjir datang. Kalau musim kemarau, kekeringan menyergap. Dua wajah Blora itu tidak boleh terus dianggap sebagai takdir tahunan,” tegasnya.

Kekeringan menjadi persoalan yang paling membekas. Jauh sebelum terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Tengah, Padma sudah keluar-masuk desa untuk mendistribusikan air bersih.

Pada masa pencalegan, ia mengaku pernah menyalurkan sekitar 120 tangki air ke berbagai desa yang mengalami kekurangan air minum. Mobil tangki menjadi kendaraan yang kerap menyertai perjalanannya di pedalaman Blora.

Karena intensitasnya membantu distribusi air, sebagian warga kemudian menjulukinya sebagai “Peri Air”.

“Saya pernah berkeliling membawa sekitar 120 tangki air. Sampai ada yang memanggil saya Peri Air. Bagi saya, julukan itu bukan kebanggaan pribadi, tetapi pengingat bahwa masih ada warga yang kesulitan mendapatkan air minum,” ucap Padma.

Julukan tersebut menempatkan Padma dalam posisi yang tidak sederhana. Di satu sisi, bantuan air merupakan respons cepat yang sangat dibutuhkan warga. Namun, di sisi lain, distribusi tangki tidak boleh menjadi satu-satunya pola penyelesaian.

Dropping air hanya menyelesaikan keadaan darurat untuk beberapa hari. Akar persoalannya tetap harus dijawab melalui kebijakan jangka panjang.


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *