Penugasannya di Divpropam Polri memperluas medan pengabdiannya. Jika lalu lintas mengajarkannya tentang keselamatan publik dan Polsek mengajarkannya tentang kedekatan sosial, Propam menempatkannya pada persoalan yang lebih mendasar: integritas aparat.
Pengalaman ini relevan bagi Blora. Masyarakat tidak hanya membutuhkan polisi yang mampu mengungkap kejahatan, tetapi juga institusi yang transparan, tidak diskriminatif, serta berani menindak pelanggaran di dalam tubuhnya sendiri.
Menunggu Kerja Nyata
Blora merupakan wilayah luas dengan kawasan hutan, jalur perbatasan Jawa Tengah–Jawa Timur, aktivitas migas, sumur minyak rakyat, pertambangan, peredaran narkotika, serta risiko kecelakaan lalu lintas. Kompleksitas tersebut membutuhkan kepemimpinan yang mampu menggabungkan ketegasan hukum, kemampuan membaca konflik sosial, dan komunikasi publik yang terbuka.
Karena itu, jabatan Kapolres tidak boleh berhenti sebagai simbol komando. Keberhasilan AKBP Inggal nantinya akan diukur dari keamanan yang dirasakan warga, kecepatan pelayanan, keberanian menangani perkara sensitif, serta konsistensi menjaga personelnya tetap profesional.
AKBP Inggal Widya Perdana telah melewati jalan raya, ruang komando, dan ruang pengawasan etik. Kini, Bumi Samin menjadi tempat pembuktian berikutnya.
Blora tidak hanya menunggu Kapolres baru. Blora menunggu pemimpin yang hadir, mendengar, dan memastikan hukum bekerja tanpa kehilangan nurani. (@bangsar/01)


.gif)