“Demi Desa yang Tak Tertinggal”
BLORA, OPINI PUBLIK.(WJI.NETWORK): Di tengah hempasan waktu dan tantangan ekologi, Nursa’ian—atau yang akrab disapa Aan—memilih berdiri paling depan. Sejak menjabat sebagai Kepala Desa Nglungger, Kecamatan Kradenan, Blora pada 19 September 2019, ia mengabdikan diri sebagai penjaga tanah dan harapan warganya.

Bertumpu pada pertanian dan bertahan di tengah ancaman abrasi Bengawan Solo serta penambangan pasir liar, Aan menunjukkan bahwa kepemimpinan desa tak melulu soal administratif, tapi juga soal keberanian merawat warisan.
Di sebuah desa yang terletak di pinggiran Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, berdiri sosok pemimpin desa yang tidak hanya paham struktur pemerintahan, tapi juga mengakar dalam denyut nadi warganya. Nursa’ian, pria kelahiran 19 September 1984 yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Nglungger, tak gentar menghadapi kompleksitas masalah desa.
“Saya ini anak petani. Maka saya tahu betul bagaimana rasanya gagal panen karena serangan hama, juga bagaimana gundahnya ketika tanah longsor. ” kata Aan, membuka perbincangan saat ditemui di Balai Desa Nglungger baru-baru ini.
Karena gagal panen berkali-kali tambah A’an, banyak warga yang tidak bisa membayar hutang atau cicilan di bank. Disini, A’an juga sudah minta kompensasi pada pihak perbankan tapi juga tidak bisa membantunya. “Sehingga banyak warga yang binggung, akhirnya banyak warga yang menjual tanahnya untuk mbayar bank ” tambah A’an.
Nafas Panjang Desa yang Rawan Bencana
Desa Nglungger adalah potret umum desa agraris yang sangat menggantungkan hidup dari tanah. Hampir seluruh warga berprofesi sebagai petani atau buruh tani musiman. Sayangnya, aktivitas pertanian yang tak menentu dan cuaca ekstrem membuat hasil panen kerap mengecewakan. “Kalau sudah panen gagal, ya warga bingung. Banyak yang jadi penambang pasir sebagai jalan keluar,” ujar Aan.
Namun solusi itu datang dengan risiko. Penambangan pasir yang marak di sekitar bantaran Bengawan Solo memang menyerap tenaga kerja. Tapi dampaknya mulai dirasakan: tanah longsor, jalan rusak, ladang terkikis. Bahkan produktivitas lahan menurun drastis.
“Jangan sampai solusi hari ini jadi bencana besok. Saya tidak anti tambang, tapi harus ada regulasi dan kesadaran lingkungan,” tegas Aan.
Infrastruktur JUT dan Penanganan Longsor


.gif)