KOLOM : Kiem Bangsar
Mohammad Saleh tidak datang dengan sorak, tapi dipilih karena rekam jejaknya. Ketika banyak politisi naik lewat buzzer dan manuver dua muka, Saleh justru dibayar lunas oleh konsistensi yang lama tak dianggap penting.

Golkar Jateng kini punya ujian: berani berubah atau kembali jadi mesin partai tanpa ruh.
Dalam konstelasi politik yang kerap dipenuhi manuver dan saling tikam kepentingan, Mohammad Saleh menempuh jalur yang berbeda.
Ia tak menempuh kursi kekuasaan dengan gebyar pencitraan atau intrik politik dua kaki, melainkan dengan satu hal yang semakin langka di republik ini: kesetiaan yang diam-diam bekerja.
Saleh tidak mencuat dari konflik. Ia tumbuh dari konsistensi. Dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Jawa Tengah, Jumat malam (2/5/2025), namanya tak perlu dipertarungkan.
Tak ada lawan, tak ada drama. Tapi bukan karena posisi itu kosong peminat—melainkan karena dirinya sudah terlalu cukup dipercaya.
Inilah momen langka: ketika loyalitas yang tak menuntut balas justru dibayar lunas oleh sejarah. Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia menyebut Saleh sebagai “teman” yang mendukungnya bahkan saat tahu peluangnya kecil.


.gif)