Perhitungan anggaran dibuka: sekitar Rp6 miliar untuk menuju bentuk matang. Skema pembiayaan dicicil dari ruang fiskal desa dan dilakukan bertahap. “Tidak bisa menunggu gelontoran besar. Yang penting pondasi: tata lahan, kanal, sumur, penampungan, baru fasilitas inti,” tambahnya.
Urutannya realistis, bangun air dan akses, hasilkan panen dan kuliner untuk cashflow, lengkapi wahana keluarga dan operasionalkan di bawah BUMDes agar pendapatan tercatat, biaya terukur, dan layanan terjaga.
Manajemen risiko ikut dihitung. Kanal mengarahkan limpasan hujan agar tidak merusak bedengan dan jalur; SOP keselamatan diterapkan ketat di area kolam dan wahana; kebersihan, keteduhan, serta rambu edukasi jadi standar layanan.
“Kami tidak menjual pemandangan spektakuler. Kami menjual pengalaman yang dirancang: belajar sambil bermain, makan hasil kebun sendiri, dan pulang membawa pengetahuan,” terang Siswadi.
Menurut Siswadi dampak yang diincar terukur: peningkatan pendapatan BUMDes dari tiket, sewa wahana, dan kuliner; serapan kerja lokal dari kebun, olahan pangan, hingga layanan wisata; serta indikator ketahanan pangan dari produktivitas jagung, koro pedang, dan kolam ikan.
“Kalau arus kas awal kuat dari pangan, wahana tumbuh tanpa membebani kas. Ini tentang disiplin menata, bukan mengejar sensasi,” tambahnya.
Pada akhirnya, proyek ini merumuskan identitas baru Sambongrejo: sawah yang dikelola cerdas, air yang diatur tepat, dan pengalaman keluarga yang mendidik. “Tak punya potensi alam bukan alasan mengubur mimpi. Justru itu alasan untuk bekerja lebih rapi, sedikit demi sedikit, sampai berdiri sendiri,” tandas Siswadi. (red/@bangsar25)


.gif)