MENGUJI ARAH Pendidikan di Blora (Hardiknas 2026 di Mata Kepala Sekolah (bagian-1)

Menurut Sucipto, guru produktif dan tenaga pendidik di SMK memiliki peran strategis dalam membentuk karakter kerja siswa. Pendidik tidak hanya mengajar materi, tetapi juga membangun mentalitas profesional yang dibutuhkan dunia industri.

Ia tidak menampik bahwa pendidik berhak memperhitungkan kesejahteraan dan upah. Namun, dalam konteks pendidikan vokasi, ia menilai akan lebih kuat jika pendidik juga menempatkan pembentukan mental siswa sebagai bagian utama dari pengabdian pendidikan.

“Sekarang banyak pendidik yang masih mengukur kerja dengan upah. Ini tidak salah, tetapi lebih indah jika pendidik bisa menyiapkan mental siswa agar bisa terserap ke dunia usaha dan industri,” katanya.

Pendidikan vokasi tidak cukup hanya membicarakan mesin, laboratorium, kurikulum, dan kerja sama industri. Ada fondasi yang lebih mendasar, yaitu mentalitas guru dan siswa dalam menghadapi realitas dunia kerja.

Masih Lemah

Siswi SMK Pelita jurusan tata busana saat berpraktik menjahit di Lab Tata Busana SMK Pelita Japah

Dalam konteks Jawa Tengah dan Blora, Sucipto menyebut tantangan terbesar SMK adalah skill dan mental. Banyak lulusan memiliki kemampuan teknis, tetapi tidak semua mampu bertahan dalam dunia kerja yang kompetitif.

Menurutnya, dunia kerja hari ini tidak hanya menilai seseorang dari kemampuan teknis. Industri juga menuntut kedisiplinan, ketahanan menghadapi tekanan, kemauan belajar, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama.

“Banyak lulusan memiliki skill yang baik, tetapi sedikit yang mampu bertahan di dunia kerja yang kompetitif. Mental bertahan itu penting. Mental yang kuat akan menentukan apakah seseorang bertahan atau tidak dalam pekerjaan,” jelasnya.

Hal yang sama berlaku dalam kewirausahaan. Seseorang yang ingin membangun usaha tidak hanya membutuhkan keterampilan produksi atau layanan, tetapi juga mental menghadapi risiko, kegagalan, persaingan pasar, dan perubahan kebutuhan konsumen.

Sementara itu, untuk lulusan SMK yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, Sucipto menyebut jumlahnya relatif kecil. Di SMK Pelita Japah, menurutnya, jumlah lulusan yang melanjutkan pendidikan kurang dari lima persen. Karena itu, mayoritas lulusan memang harus dipersiapkan secara serius untuk bekerja atau berwirausaha. (@bangsar/01)


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *