AGROINDUSTRI 2026–2030: Strategi Blora MENGAMANKAN PANGAN dan Masa Depan Ekonomi

Dan modernisasi Alsintan (Alat dan Mesin Pertanian). Modernisasi tidak hanya diukur dari seberapa banyak alat, tetapi seberapa efektif alat itu digunakan. DP4 aktif melakukan sosialisasi dan fasilitasi penggunaan Alsintan modern untuk pra-panen, panen, dan pasca-panen. Tujuannya: efisiensi tenaga, pengurangan kehilangan hasil (losses), dan peningkatan kualitas produk.
Green Ekonomy

Peta jalan ini tidak hanya memikirkan angka produksi, tetapi juga kelestarian lingkungan. “Prinsip green economy dan pertanian berkelanjutan adalah inti dari Renstra ini, selaras dengan Visi Bapak Bupati, yakni ‘Maju dan Berkelanjutan’ serta agenda RPJMN,” tambah Alim.

Ada dua inovasi yang menjadi ikon: pertama melalui : Gerakan Sejuta Kotak Umat (GESEKU). Ini adalah strategi peningkatan produksi pupuk organik yang melibatkan petani secara langsung mengolah limbah kotoran ternak. Tujuannya bukan hanya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, tetapi juga memulihkan kesuburan tanah yang mengalami degradasi.

Kedua : Rumah Burung Hantu (RUBUHA) untuk Pengendalian Hama Tikus. Alih-alih meningkatkan dosis pestisida, DP4 mendorong Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan memanfaatkan musuh alami, salah satunya burung hantu sebagai predator tikus. Pembangunan rumah burung hantu di lahan-lahan tertentu bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari rekayasa ekologi yang terukur. Kombinasi kebijakan pupuk organik dan PHT menjadi fondasi pertanian yang tidak sekadar produktif, tetapi juga berkelanjutan.

Tantangan Besar

Menurut Alim transformasi menuju agroindustri bukan jalan mulus. Berdasarkan analisis Renstra, DP4 mengidentifikasi tiga tantangan besar masing-masing pertama  : Sumber Daya Manusia dan Mindset Petani. Mengubah cara pandang dari sekadar “tandur–ngluku–panen” menjadi “produksi–olah–pasar–branding” membutuhkan proses. “Merubah mindset petani mengarah ke industrialisasi pertanian adalah tantangan besar,” tegas Kepala DP4.

Kedua : Sarana dan Prasarana dimana industrialisasi membutuhkan dukungan infrastruktur: jalan produksi, irigasi, listrik, air, gudang, hingga fasilitas logistik dan cold chain. Tanpa ini, biaya produksi dan distribusi tetap tinggi, dan daya saing produk akan terbatas.

Ketiga : Adopsi Teknologi Tepat Guna. Banyak teknologi sudah tersedia, tetapi belum sepenuhnya diadopsi. Tantangan DP4 adalah memilih teknologi yang tepat guna—bukan sekadar canggih di atas kertas—dan memastikan petani benar-benar bisa menggunakannya.

DP4 menyadari bahwa peta jalan agroindustri tidak mungkin berjalan dalam “sekat dinas”. “Sinergi lintas sektor adalah kunci, dan ini dimulai sejak tahap perencanaan,” tambah Alim.

Renstra DP4 disusun dengan berpedoman pada RPJMD Kabupaten Blora yang dikoordinasikan oleh Bappeda. Dalam prosesnya, DP4 melibatkan “seluruh unsur pelaku pembangunan” melalui Forum Group Discussion (FGD). Di sana dibahas kebutuhan sinkronisasi dengan: Dinas Perindustrian dan Perdagangan, untuk pengembangan industri pengolahan dan akses pasar.

DenganDinas Koperasi dan UKM, untuk penguatan kelembagaan ekonomi petani dan BUMDes. Dinas Pekerjaan Umum, untuk menjamin ketersediaan air irigasi dan infrastruktur pendukung produksi. OPD lain yang terkait dengan investasi, pendidikan, hingga lingkungan hidup. Sinergi ini diharapkan meminimalkan “benturan program” dan memastikan satu garis kebijakan dari hulu sampai hilir.

Keberhasilan peta jalan tidak diukur dari banyaknya program, tetapi dari capaian indikator. DP4 telah menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kunci (IKK) yang menjadi alat ukur konkret. Beberapa indikator kunci: Jumlah Olahan Hasil Perikanan
Baseline 2024: 631,91 ton,target 2029: 637,62 ton. Produksi Daging (Total) Baseline 2024: 1.801,03 ton,target 2029: 2.452,58 ton. Produksi Telur, Baseline 2024: 3.942,55 ton
– Target 2029: 4.693,07 ton.

Angka Konsumsi Ikan (AKI), Baseline 2024: 24,17 kg/kapita/tahun
Target 2029: 25 kg/kapita/tahun, Skor Pola Pangan Harapan (PPH). Baseline 2024: 89,9
Target 2029: 90,4. Nilai SAKIP Dinas Baseline 2024: 82,55, Target 2029: 88,55

Angka-angka ini menunjukkan bahwa peta jalan agroindustri tidak hanya bicara gagasan besar, tetapi juga target yang terukur, baik di sisi produksi, konsumsi, maupun tata kelola organisasi.

Penurunan Minat

Kepala DP4 menyampaikan pesan yang tegas kepada semua pelaku pertanian dan generasi muda Blora.

“Kepada seluruh petani dan kelompok tani, pembangunan ini tidak bisa berjalan sendiri. Renstra ini dirancang untuk mewujudkan partisipasi seluruh pemangku kepentingan. Mari kita laksanakan pembangunan ini secara bersama, bahu-membahu. Manfaatkan program penyuluhan, sekolah lapang, dan teknologi yang kami siapkan untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah,” pesannya.

Khusus kepada generasi muda, ia memberikan penekanan tersendiri. DP4 mencatat tren penurunan minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian. “Peta jalan agroindustri ini adalah jawaban kami. Kami berupaya menjadikan sektor pertanian lebih menarik; ini bukan lagi hanya soal cangkul, tetapi soal teknologi, industri olahan, dan manajemen rantai pasok modern. Masa depan ketahanan pangan Blora ada di tangan Anda. Mari bergabung, berinovasi, dan kita wujudkan kemandirian agroindustri daerah kita,” tegasnya.

Peta Jalan Agroindustri Blora 2026–2030 bukan dokumen formalitas. Ia adalah kompas arah pembangunan untuk lima tahun ke depan: menguatkan hulu, membangun hilir, menjaga lingkungan, dan mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai masa depan, bukan masa lalu.

Dengan fondasi kontribusi PDRB 21,15%, komoditas unggulan yang jelas, inovasi hijau seperti GESEKU dan Rumah Burung Hantu, sinergi lintas OPD, serta target indikator yang terukur, Blora menempatkan dirinya pada jalur yang lebih strategis: dari kabupaten agraris biasa menjadi daerah yang serius menapaki jalan kemandirian agroindustri. (@bangsar25)

 

 


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *