
Dua prioritas besar Aan dalam masa kepemimpinannya ialah pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) dan penanganan abrasi sungai. Infrastruktur jalan tani dinilai vital agar hasil pertanian mudah diakses pasar. Sementara longsor di tepi Bengawan Solo tak hanya mengancam lahan, tetapi juga keselamatan warga.
“Kalau hujan besar datang, kami was-was. Satu-dua petak sawah bisa amblas dalam semalam,” ungkapnya. Aan menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah kabupaten. “Kami sudah mengusulkan bantuan penahan tebing dan normalisasi sungai. Harapannya, Pemkab tidak tutup mata,” ujarnya.
Antara Harapan dan Ketidakpedulian
Penelitian lapangan menunjukkan bahwa selain tantangan fisik, Desa Nglungger juga menghadapi tantangan sosial berupa ketidakpedulian kolektif terhadap lingkungan. Masyarakat cenderung permisif terhadap kebisingan, rusaknya jalan, atau hilangnya ladang akibat tambang. Pemerintah desa pun bekerja keras memediasi antara kebutuhan ekonomi dan upaya konservasi.
“Saya sudah pasang portal di jalan desa agar truk pasir tidak semaunya. Tapi ini bukan cuma tugas kepala desa, warga juga harus ikut jaga lingkungan,” kata Aan.
Dalam berbagai forum, Aan kerap menyuarakan agar pertanian tak dilupakan. Bantuan alat pertanian, pupuk subsidi, pelatihan pertanian organik, hingga rehabilitasi tebing sungai menjadi daftar harapannya kepada Pemerintah Kabupaten Blora. “Kami ini desa pertanian, jangan cuma dibantu saat pemilu. Tolong jaga kami seperti kami menjaga lumbung pangan,” tegas Aan, lugas.
Tidak Hanya Duduk di Balik Meja

Aan bukan tipe pemimpin yang menunggu bola. Ia hadir di sawah, berdiri di bantaran sungai yang retak, dan mendengar langsung keluhan warga. Baginya, desa bukan hanya wilayah administratif, tapi ladang pengabdian yang menuntut kerja nyata.
“Bukan saya yang hebat, tapi tanah ini. Dan tugas saya cuma satu: jangan biarkan desa ini kehilangan akarnya,” pungkasnya. (S.Wijayanto/01)


.gif)