Pernyataan ini penting, sekaligus membuka ruang kritik. Ketika tambang ilegal, baik minyak maupun galian C berjalan bertahun-tahun, publik sulit menerima narasi keterbatasan koordinasi sebagai jawaban final. Apalagi ketika Satgas sudah dibentuk, tetapi tidak bergerak karena Surat Keputusan belum terbit. Di titik ini, problem Kamtibmas bersinggungan langsung dengan tata kelola pemerintahan.
PR Berkepanjangan
Secara statistik, Blora masih bergulat dengan kasus-kasus crime index: curat, curas, curanmor, dan penyalahgunaan narkoba. Sebagian besar memang dapat ditangani aparat. Namun, yang lebih membekas justru kasus-kasus besar yang menyentuh nyawa manusia dan mengguncang rasa aman kolektif.
Tahun-tahun terakhir mencatat rangkaian tragedi: tewasnya lima pekerja di RS PKU Muhammadiyah Blora, kebakaran sumur minyak ilegal di Gedono, Gandu, Bogorejo yang merenggut lima korban jiwa, hingga tragedi hanyutnya lima santriwati Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Muhammadiyah Boarding School Al Maa’uun. Kasus-kasus ini tidak bisa dibaca semata sebagai kecelakaan, tetapi sebagai sinyal kegagalan sistem pengawasan dan pencegahan.
Terbuka Lebar
Dalam beberapa kesempatan, Kapolres menegaskan pentingnya duduk bersama: Pemkab, aparat penegak hukum lain, ormas, media, dan tokoh masyarakat. Pernyataan ini rasional. Namun, publik menunggu lebih dari sekadar forum dan wacana. Yang dinilai adalah keberanian memutus mata rantai pelanggaran, terutama pada sektor-sektor yang selama ini dianggap ‘kebal’.
Kepercayaan publik tidak runtuh karena kejahatan semata, tetapi karena kesan pembiaran. Ketika tambang ilegal terus beroperasi, ketika tragedi berulang tanpa kejelasan tanggung jawab, maka istilah ‘Blora Sumuk’ menemukan maknanya yang paling politis: daerah yang panas oleh persoalan, tetapi dingin dalam penyelesaian.
Kamtibmas Blora 2025 berada di persimpangan. Aparat keamanan telah bekerja, tetapi tantangan yang dihadapi bersifat struktural dan lintas sektor. Tanpa ketegasan bersama, bukan hanya koordinasi administratif, Blora akan terus membawa beban ‘sumuk’ yang sama: rasa tidak aman, trauma kolektif, dan keraguan masa depan.
Keamanan, pada akhirnya, bukan soal patroli dan penindakan semata. Ia adalah fondasi kepercayaan. Dan di situlah pekerjaan rumah terbesar Blora masih terbuka lebar. (@bangsar25/01)


.gif)