Untuk memutus rantai penularan, pemerintah menerapkan pendekatan berbasis komunitas. Di Blora, sebanyak 1.876 pasien TB akan menjadi titik awal intervensi besar-besaran.
“Setiap rumah penderita akan kita datangi. Kalau ada 6.000 orang kontak erat, semuanya akan diperiksa. Yang sakit kita obati, yang belum sakit kita beri obat pencegahan,” tegasnya.
Pengobatan pencegahan ini dilakukan secara terstruktur, dengan dosis mingguan selama 12 kali minum.
“Ini bukan sekadar program, ini gerakan. Kita tidak menunggu orang sakit, kita jemput sebelum sakit,” katanya.
Program ini juga melibatkan 590 kader kesehatan di 295 desa di Blora, masing-masing dua orang per desa. Mereka akan menjadi ujung tombak pelacakan, edukasi, dan pendampingan pasien.
“Kita siapkan anggaran, transportasi, dan pelatihan. Ini harus terukur. Tahun depan, Bupati Blora harus bisa lihat angka TB turun drastis,” ujarnya.
Ia optimistis, dengan intervensi menyeluruh, Blora bisa menjadi contoh nasional dalam pengendalian TB.
Batu Uji Indonesia Maju
Di akhir sambutannya, dr Benny menegaskan bahwa eliminasi TB adalah syarat mutlak bagi Indonesia untuk naik kelas sebagai negara maju.
“Kalau kita bisa bebas dari TB, itu tanda bahwa sistem kesehatan kita kuat, masyarakat kita sadar, dan negara ini siap maju,” pungkasnya.
Road show ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan awal dari pertarungan panjang melawan penyakit yang selama ini tersembunyi namun mematikan. Di Blora, pertarungan itu resmi dimulai.
Ikut mendampingi acara Sosialisasi penanganan TB di Blora, Anggota Komisi IX DPR RI, Dr. Edi Wuryanto, SKp.M.Kep, Kadinkes Jateng Yunita Dyah Suminar, Bupati Blora Arief Rohman dan Wabub Sri Setyorini. Setelah dari Blora kegiatan serupa dilanjutkan ke Grobogan. (@bangsar26/01)


.gif)