Selain membekali mahasiswa dengan pengetahuan gizi dan teknologi digital, kegiatan ini juga dirancang untuk mengembangkan softskill penting seperti komunikasi, kolaborasi, dan orientasi kewirausahaan.
“Kami ingin menciptakan mahasiswa yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga menjadi penggerak pembangunan ekonomi lokal melalui inovasi yang berdampak,” kata Isnaini Qoriatul Fadhilah, selaku ketua tim pengabdian.
Melalui interaksi langsung dengan pelaku usaha dan masyarakat, mahasiswa memperoleh pengalaman praktis dalam membina UMKM, memahami tantangan nyata di lapangan, dan merancang solusi yang berbasis data.
Visi Jangka Panjang
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabnaa 2025 yang menargetkan pembangunan ekosistem kewirausahaan berbasis rekam medis elektronik di Kota Semarang.
“Kami percaya bahwa integrasi antara informasi kesehatan dan kewirausahaan digital akan menjadi tren masa depan. Pelatihan ini adalah bentuk kontribusi nyata kami dalam membangun masa depan itu,” tutur Zuhria.
Sebagai lembaga vokasi kesehatan, Poltekkes Kemenkes Semarang mengambil posisi strategis dalam mendukung agenda transformasi ekonomi dan kesehatan nasional.
Melalui pengabdian kepada masyarakat seperti ini, RMIK tidak hanya mendidik mahasiswa, tetapi juga memperluas dampak sosial terhadap lingkungan sekitar.
Melalui pelatihan “Kuliner Sehat Berbasis Data”, Jurusan RMIK Poltekkes Kemenkes Semarang membuktikan bahwa pendidikan tinggi vokasi mampu menjadi katalis perubahan.
Bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga menciptakan solusi nyata dan relevan bagi masyarakat, terutama di tengah kebutuhan akan kewirausahaan yang adaptif dan berbasis teknologi. [Isti/01]


.gif)