“Kita akan bekerja dengan pendekatan yang lebih sistematis dan terbuka. Tidak hanya untuk menang dalam Pilkada atau Pileg, tetapi memastikan Golkar hadir menjawab kebutuhan masyarakat Jateng secara konkret,” kata Saleh dalam pidato pertamanya sebagai Ketua.
Musda ini tidak hanya mencerminkan konsolidasi internal, tapi juga menandai arah baru: politik yang lebih cair, namun tetap terukur. Di forum yang sama, hadir pula Menteri ATR Nusron Wahid, Wamen Perdagangan Dyah Roro Esti, dan Menteri Kependudukan Wihaji.
Mereka bukan hanya simbol kehadiran elite, melainkan sinyal kuat tentang posisi strategis Jateng dalam peta nasional Partai Golkar.
“Rangkul para senior. Hormati jalan yang sudah mereka tempuh. Politik ini bukan soal siapa paling cepat, tapi siapa yang bisa menjaga napas panjang organisasi,” pesan Bahlil, menegaskan pentingnya kesinambungan ideologis dan strategi regenerasi.
Kini, tantangan Saleh di depan mata bukan sekadar konsolidasi struktural. Ia harus menjawab dua hal penting: menguatkan basis elektoral Golkar di Jateng yang sempat menurun dan menyiapkan mesin politik menghadapi Pilkada serentak, di mana Golkar telah mengusung Taj Yasin Maimoen sebagai calon Gubernur.
Dalam iklim politik yang sarat strategi dan kalkulasi, Mohammad Saleh justru datang dengan pendekatan relasi dan dedikasi.
“Saya tidak akan bekerja sendirian. Golkar ini rumah kita bersama. Semua kader, semua simpatisan, harus bergerak dalam barisan yang sama. Kita punya waktu lima tahun untuk menjemput kemenangan yang bermartabat,” ujarnya lugas.
Loyalitas Saleh pada masa lalu kini dibayar dengan mandat besar. Namun lebih dari itu, penetapan ini membuka babak baru: saat Golkar Jateng dipimpin bukan oleh mereka yang paling keras bicara, tapi yang paling tenang memimpin. (01)


.gif)