
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan keseriusan pemerintah provinsi dalam mendukung pembinaan olahraga panahan.
“Hari ini kita buktikan, tidak hanya berhenti pada seremoni. Kategori KU 10 ini bukti keseriusan kita supaya pembinaan lebih masif lagi,” kata Taj Yasin.
Ia berharap, para atlet Jateng terpacu lebih giat. Dua nama tuan rumah, Deeva Earlyta Arsyfa (KU 13) dan Hilma Adelya (KU 18) bahkan terang-terangan mengincar podium tertinggi. “Harapannya nanti fokus, tembakannya bisa grouping, dan lebih tenang,” ucap Hilma saat ditemui seusai latihan ringan.
Menyuburkan Sport Tourism
Bagi Menpora, hajatan olahraga nasional seperti ini punya makna ganda. Selain prestasi, juga penggerak ekonomi lokal.
“Bisa dilihat sendiri, dampaknya merata: UMKM ramai, hotel penuh, jasa transportasi bergerak. Ini yang saya sebut sport tourism yang hidup,” kata Dito.
Kudus dinilai spesial. Dengan reputasi yang kuat di olahraga — mulai bulutangkis, sepak bola, kini panahan — kabupaten ini makin mantap memposisikan diri sebagai destinasi sport tourism Jawa Tengah.
Dari arena Supersoccer Kudus hingga lapangan-lapangan latihan kecil di Papua, ribuan busur diarahkan ke sasaran. Bukan hanya membidik papan target, tapi juga masa depan olahraga Indonesia.
Jika ekosistem ini terus terpelihara, mimpi mengibarkan Merah Putih di Olimpiade tak lagi terasa jauh. Dan semua berawal dari senyum polos atlet-atlet kecil yang hari ini belajar menaklukkan grogi, demi satu anak panah yang tepat sasaran. (red/01)


.gif)