
Edi Wuryanto lebih jauh menyoroti, dimensi sosial penyakit TB yang menurutnya masih lekat dengan kemiskinan.
“Sebagian besar penderita TB adalah masyarakat miskin. Sudah sakit, ekonominya terpukul, kalau tidak sembuh bisa semakin jatuh,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa TB yang tidak ditangani dengan baik berpotensi menjadi kebal obat (resisten), sehingga membutuhkan pengobatan lebih lama dan mahal.
“Kalau sudah kebal obat, pengobatannya panjang dan berat. Ini yang harus kita cegah sejak awal,” ujarnya.
DPR, lanjutnya, mendukung penuh pendekatan aktif yang kini dilakukan pemerintah, termasuk skrining massal dan pemeriksaan kontak erat berbasis keluarga.
“Sekarang tidak cukup menunggu pasien datang. Kita harus jemput bola, periksa keluarga, lakukan rontgen di lapangan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya terapi pencegahan bagi mereka yang belum sakit tetapi sudah terpapar.
“Kalau negatif tapi kontak erat, harus diberi terapi pencegahan. Minum obat seminggu sekali, ini langkah konkret memutus rantai penularan,” katanya.
Bisa Nomor Satu
Politikus PDI P ini mengingatkan bahwa tanpa langkah luar biasa, Indonesia berisiko menjadi negara dengan kasus TB tertinggi di dunia.
“Dulu China nomor satu, sekarang India sudah turun drastis. Kalau kita tidak bergerak cepat, Indonesia bisa jadi nomor satu. Ini yang harus kita cegah bersama,” pungkasnya.
Road show di Blora menjadi sinyal awal bahwa perang melawan TB tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga DPR, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat. (@bangsar/01)


.gif)