Menyulap Sawah Jadi Destinasi: Mimpi Siswadi di Dukuh Sumengko Sambongrejo

TUNJUNGAN, OPINI PUBLIK.CO. Di atas hamparan sawah seluas lebih dari 9 hektare milik aset desa, Kepala Desa Sambongrejo, Siswadi, memulai proyek yang tak lazim untuk wilayah tanpa panorama unggulan: menjadikan tanah bengkok untuk menjadi destinasi agrowisata-eduwisata keluarga.

Keterbatasan view diubah jadi keunggulan, Siswadi akan membangun wisata tengah tegalan yang menggabungkan sirkuit keliling, edukasi tani dan sentra olahan hasil kebun—model desa wisata yang bertumpu pada air, pangan, dan pengelolaan BUMDes yang terintegrasi.

Siswadi dan mbah Sarjo saat menyiapkan lahan di Dukuh Sumengko yang akan digunakan untuk tanam Raya Jagung oleh Forkopimda Blora

“Desa Sambongrejo tidak memiliki view untuk obyek wisata. Punyanya hanya sawah, maka ya sawah itulah yang bisa disulap untuk menjadi destinasi wisata sawah,” ujar Siswadi yang ditemui lokasi lahan untuk tanam raya Jagung bersama Forkopimda Blora Selasa (7/10/2025)

Di Dukuh Sumengko, perbatasan Desa Sukorejo–Gempolrejo, pelan tapi pasti, Siswadi mulai melakukan penataan lahan untuk destinasi wisata desa berjalan beriring dengan program ketahanan pangan. Jagung dan koro pedang ditanam sebagai penyangga arus kas awal, kolam ikan mulai dirintis, sementara kanal keliling disiapkan untuk mengatur debit air saat musim hujan.

“Di sini air itu vital. Kemarau membuat pasokan menipis, hujan justru melimpah. Maka sumur bor dan penampungan harus jadi prioritas,” jelas Siswadi. Infrastruktur air ditempatkan sebagai fondasi, karena seluruh fungsi—kebun buah, kolam renang, hingga wahana anak—bertumpu pada suplai yang stabil.

Lanskap Edukatif

Diproyeksikan destinasi keluarga yang produktif. Area akan diisi jalur sirkuit keliling untuk jalan santai dan odong-odong, arena permainan anak, serta kolam renang dangkal. Kebun buah—mangga, kedongdong, pisang—ditata menyatu dengan hamparan jagung dan demplot koro pedang, menciptakan lanskap edukatif yang bisa dilalui pengunjung.

“Kami ingin anak-anak bukan hanya bermain, tapi juga paham proses tanam, panen, sampai mengolah hasil kebun,” kata Siswadi. Tanaman pisang yang sudah ada akan diolah menjadi kuliner khas; dari keripik, sale, hingga aneka kudapan, agar nilai tambah tinggal di desa.


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *