SEMARANG, OPINI PUBLIK.CO – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan pandangan strategi terkait kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan dalam Rapat Paripurna DPRD Jateng di Gedung Berlian, Semarang, Jumat (21/2/2025).
Dalam pidato sambutannya, ia menekankan bahwa upah tenaga kerja yang relatif lebih rendah di Jawa Tengah dapat menjadi daya tarik utama bagi investor untuk menanamkan modal di provinsi ini.
Dalam pemaparannya, Ahmad Luthfi merujuk pada Surat Keputusan Gubernur Jateng Nomor 561/45 Tahun 2024 yang menetapkan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) Jateng sebesar 6,5 persen menjadi Rp 2.169.349.
Ia mengakui bahwa angka ini masih lebih rendah dibandingkan provinsi lain, tetapi melihatnya sebagai keunggulan kompetitif dalam menarik investasi.
“UMR Jateng naik sekitar 6,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, namun ini tetap lebih rendah dibandingkan provinsi lain. Di balik ini ada keuntungan besar, yakni semakin banyak investor yang tertarik untuk berinvestasi di Jawa Tengah,” ujar Luthfi dalam pidatonya.
Menurutnya, tenaga kerja dengan upah kompetitif dapat menjadi daya tarik utama bagi investor, terutama di sektor industri manufaktur dan tekstil. Dengan adanya Proyek Strategis Nasional (PSN) di beberapa daerah seperti Brebes, Batang, Kendal, dan Sayung, diharapkan pertumbuhan ekonomi daerah semakin meningkat.
Pelatihan Tenaga Kerja
Selain menyoroti potensi investasi, Gubernur Ahmad Luthfi juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja agar masyarakat lokal dapat terserap dalam industri yang berkembang.
Untuk itu, ia berencana memperkuat pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) guna menyesuaikan keterampilan pekerja dengan kebutuhan industri.
“Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor tekstil yang hampir mencapai 14 ribu pekerja perlu segera ditangani. Kami akan mengarahkan mereka ke BLK agar siap bekerja di proyek-proyek industri besar, termasuk yang masuk dalam PSN,” kata Luthfi.


.gif)