Di bidang pendidikan, MBG diyakini mampu meningkatkan konsentrasi belajar, semangat sekolah, dan prestasi siswa. Anak-anak dari keluarga tidak mampu tak lagi datang ke sekolah dalam kondisi lapar atau mengantuk karena kekurangan gizi.
“Ketika anak kenyang dan gizi terpenuhi, otaknya bekerja optimal, semangatnya tumbuh. Pendidikan tidak bisa lepas dari gizi,” kata Edy Wur yang juga praktisi kesehatan.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak warga Muhammadiyah, koperasi, pelaku UKM, dan petani Blora untuk menjadi mitra penyedia bahan pangan. Edy menekankan bahwa kualitas pangan adalah prioritas: sehat, segar, dan layak konsumsi.
“Jangan jadikan dapur MBG tempat buangan barang sisa. Ini tentang anak-anak kita, masa depan bangsa. Mari kita jaga kualitas dan integritas,” tambahnya.
Program ini, lanjutnya, akan melibatkan berbagai pihak termasuk lembaga desa dan pemerintah kabupaten, agar bisa membangun ekosistem pangan yang mandiri dan berkelanjutan.
“Ini bukan proyek bantuan jangka pendek. Ini ekosistem jangka panjang. Kalau masyarakat ambil bagian, kita bisa wujudkan Indonesia yang mandiri pangannya, kuat ekonominya, dan unggul generasinya,” pungkasnya.
Sosialisasi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa MBG akan menjadi lebih dari sekadar agenda kebijakan, melainkan gerakan kolektif untuk memulihkan martabat desa dan menyiapkan generasi masa depan yang sehat dan berdaya. (@bangsar/01)


.gif)