
Tiga tahun menjabat, Subakri mencatat nyaris tak ada konflik sosial yang berarti. Desa Tanjung tergolong aman, tenang, dan penuh toleransi. Ini menjadi aset sosial yang tidak dimiliki banyak desa lain. Dalam narasi kepemimpinannya, stabilitas bukan sekadar tidak adanya masalah, tapi juga hadirnya rasa saling percaya antarwarga.
“Saya tidak bisa bangun desa kalau warga saling curiga. Maka dari awal, transparansi jadi kunci,” ungkapnya.
Subakri bukan tipe pemimpin yang bangga dengan proyek mercusuar. Ia lebih memilih menyelesaikan hal-hal kecil tapi berdampak langsung—seperti jalan desa yang dulu rusak kini telah diperpanjang dan diperkeras, memudahkan akses warga untuk membawa hasil tani ke pasar. Dalam setiap kegiatan pembangunan, ia memprioritaskan warga lokal sebagai tenaga kerja.
“Kalau bisa dibangun, ya kita bangun. Tapi yang penting, pembangunan itu membawa rezeki juga bagi warga sekitar,” tegasnya.
Budaya dan Peran Pemuda
Budaya juga tidak dilupakan. Desa ini memiliki seperangkat gamelan pelog, yang rutin digunakan untuk latihan dan pertunjukan di berbagai acara desa. Subakri percaya bahwa melestarikan budaya bukan sekadar menampilkan kesenian, tapi mengakar pada identitas dan harga diri masyarakat.
Pemuda di Desa Tanjung juga menjadi bagian penting dari mesin sosial desa. Dalam kegiatan tahunan seperti peringatan HUT RI, pemuda terlibat aktif dalam kepanitiaan, pertunjukan seni, hingga kerja bakti desa.
“Saya tidak bisa bayar mereka, tapi saya bisa hadir dan memberi dukungan. Itu yang saya lakukan,” katanya.
Mimpi yang Masih Terus Dikejar
Di balik pencapaian itu, tantangan masih terbentang. Perluasan akses irigasi, digitalisasi data pertanian, serta peningkatan daya saing produk peternakan masih menjadi pekerjaan rumah. Namun Subakri tidak gentar. Ia sadar, tak semua bisa diselesaikan sekaligus. Tapi setiap langkah harus diambil dengan penuh niat dan tanggung jawab.
“Pembangunan tidak boleh menyisakan rakyat. Harus inklusif. Harus melibatkan yang kecil, yang terpinggirkan,” ujarnya.
Mimpinya sederhana namun penuh makna: melihat warga Tanjung hidup layak, bahagia, dan bangga menjadi bagian dari desa yang berkarakter. Ia ingin mewariskan bukan hanya bangunan fisik, tapi juga budaya gotong royong, etos kerja, dan nilai kepemimpinan yang melayani.
Desa Tanjung mungkin bukan pusat ekonomi atau tujuan wisata, tapi lewat tangan seorang guru yang kini menjadi kepala desa, desa ini tumbuh dengan hati.
Dalam sunyi ladang dan semangat warganya, Tanjung menunjukkan bahwa pembangunan bukan soal dana, tapi soal cinta dan keberanian untuk terus berbuat baik.
Subakri tidak menunggu bantuan dari luar; ia memilih membangun dari dalam—dari keyakinan bahwa desa bisa menjadi besar jika warganya percaya pada kekuatannya sendiri. (SW/01)


.gif)