Jika implementasinya konsisten, digitalisasi semacam ini biasanya berdampak langsung pada pengalaman pasien maka akan mengurangi ketidakpastian menunggu, mempercepat akses informasi hasil, dan mengurangi bolak-balik yang tidak perlu.
Namun, digitalisasi juga menuntut disiplin operasional: ketepatan input data, integrasi unit layanan, dan kanal bantuan jika pasien kesulitan akses.
Mutu Harus Terus Naik
Dr. Puji tidak menutup-nutupi bahwa mutu rumah sakit belum sepenuhnya mencapai standar ideal yang diharapkan manajemen. Tetapi ia menegaskan komitmen untuk terus meningkat.
Ia menyampaikan bahwa proses perbaikan harus berlanjut, dengan tujuan menjadikan RSUD sebagai rumah sakit terbaik—bukan hanya memenuhi harapan, tetapi memberi layanan yang lebih baik daripada yang dibayangkan pasien.
Pernyataan ini sekaligus menjadi “tantangan moral” bagi manajemen: ketika SDM bertambah, alat bertambah, pendapatan meningkat, dan sistem digital mulai jalan, maka ukuran akhirnya adalah satu: pasien merasakan peningkatan layanan.
Award Zona Integritas
Di sisi tata kelola, RSUD dr. Soetijono Blora juga membawa narasi integritas dalam layanan publik melalui raihan award Zona Integritas dari Kementerian PANRB. Penghargaan ini semestinya dibaca sebagai pengakuan atas upaya pembenahan sistem dan budaya kerja bukan sebagai tujuan akhir.
Dikatakan, RSUD Blora, kata dia, berkomitmen menjalankan pembenahan melalui enam area perubahan dalam pembangunan Zona Integritas. Puji Basuki menjelaskan, salah satu inovasi yang menjadi penguat transformasi layanan adalah penerapan sistem digital “Dolan Soetijono”, yaitu data online pasien yang berobat ke RSUD Blora.
Dengan inovasi tersebut, RSUD Blora dinilai mampu meningkatkan efisiensi pelayanan, terutama dalam penghematan waktu dan biaya bagi pasien.
Ia menambahkan, capaian ZI ini menjadi bukti kinerja layanan RSUD menuju pelayanan bermutu, sekaligus menjadi modal untuk langkah berikutnya menuju target yang lebih tinggi. “Wilayah birokrasi bersih dan melayani,” ujar dr.
Pernyataan itu kini punya pijakan angka. Kinerja keuangan BLUD RSUD dr. Soetijono pada 2025 menunjukkan rumah sakit tidak hanya mengejar target, tetapi mampu melampauinya—sekaligus menjaga beban biaya rutin tetap terkendali.
Penyangga Layanan
Pada tahun 2025, target pemasukan BLUD RSUD dr. Soetijono ditetapkan Rp110 miliar. Realisasinya lebih dari Rp115 miliar—melampaui target. Untuk tahun 2026, manajemen memasang target lebih tinggi: Rp120 miliar.
Angka ini tidak sekadar statistik kinerja. Karena dalam praktiknya, pemasukan BLUD adalah “napas” operasional rumah sakit: dari situlah biaya rutin ditutup, layanan berjalan, dan pegawai mendapatkan kepastian hak.
Puji menegaskan bahwa pendapatan rumah sakit menjadi penyangga inovasi layanan.“Memang selalu dalam hal ini untuk kunjungan pasien termasuk juga pendapatan rumah sakit, sehingga dengan pendapatan itu kita bisa berinovasi pelayanan.” Jelasnya.
Dengan porsi 94% pendapatan terserap untuk gaji dan operasional, pesan Puji soal kepastian hak pegawai menjadi semakin relevan. Ia menegaskan bahwa rumah sakit memastikan kesejahteraan karyawan tetap tercukupi dan tidak ada kendala pembayaran.
Bagi layanan kesehatan, ini bukan isu internal semata. Stabilitas SDM adalah syarat mutu klinis. Rumah sakit tidak bisa bicara peningkatan layanan jika tenaga kesehatan bekerja dalam ketidakpastian.
Puji juga menyampaikan bahwa tantangan berikutnya adalah meningkatkan layanan yang sudah dibangun pada fase sebelumnya.
“Tantangan kami termasuk juga untuk meningkatkan layanan-layanan yang sudah kita bangun” paparnya
Puji menambahkan struktur biaya RSUD dr. Soetijono tergolong “padat” untuk kebutuhan rutin: sekitar 94% pemasukan terserap untuk membayar gaji pegawai dan operasional rumah sakit. Artinya, hampir seluruh pendapatan digunakan untuk menjaga mesin layanan tetap hidup.
Namun, pada saat yang sama, angka ini juga berarti ada sisa (sekitar 6%) yang masih menjadi ruang gerak. Ruang ini penting karena di sinilah biasanya manajemen menempatkan: perbaikan kualitas layanan, pembenahan sistem, penguatan sarana penunjang tertentu, dan inovasi prosedur agar layanan lebih efektif.
Di titik inilah “mandiri” memiliki arti yang paling konkret: rumah sakit harus mampu menjaga biaya rutin tetap aman, sambil memastikan sisa ruang fiskal tidak habis untuk hal-hal yang tidak menyentuh mutu pelayanan.
Kepercayaan Masyarakat
Puji mengaitkan kinerja pendapatan dengan tren kunjungan pasien. Menurutnya, kenaikan kunjungan adalah indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat—dan itu dipantau lewat evaluasi tahunan.
“Memang ada peningkatan terutama dalam hal ini kunjungan pasiennya. Akhirnya ada peningkatan kepercayaan masyarakat. Dan itu sudah kami evaluasi dari tahun ke tahun”dr. Puji Basuki, M.Kes.
Kenaikan kunjungan membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, ia memperkuat legitimasi RSUD sebagai rujukan layanan publik. Di sisi lain, ia menuntut sistem lebih disiplin: antrean, farmasi, layanan penunjang, dan komunikasi informasi pasien harus semakin tertib. Jika tidak, beban layanan akan memukul balik ke kepercayaan publik.
Di tengah tuntutan perbaikan layanan, tata kelola menjadi pagar agar kepercayaan publik tidak bocor oleh praktik yang merusak. RSUD dr. Soetijono Blora juga mencatat raihan award Zona Integritas dari Kementerian PANRB. (@bangsar/01)


.gif)