Kedua, pemilih muda dan pemilih rasional yang tidak terlalu terikat dengan partai tertentu. Mereka bisa digarap melalui isu pekerjaan, pendidikan, ekonomi desa, digitalisasi UMKM, transparansi anggaran, dan lingkungan.

Ketiga, warga yang merasa tidak terwakili oleh kekuasaan hari ini. Jika ada masyarakat yang merasa jauh dari akses kebijakan, lambat dilayani, atau tidak mendapat ruang dalam pembangunan, PDIP bisa masuk sebagai saluran politik alternatif.

Tetapi syaratnya berat: PDIP harus hadir sebelum masa kampanye. Bukan datang lima tahun sekali membawa baliho dan janji.

Di sinilah posisi Andita Nugrahanto sebagai Ketua DPC PDIP Blora akan diuji. Ia membawa semangat baru, tetapi jam terbang politiknya sebagai pemimpin partai belum benar-benar terbukti dalam pertarungan besar.

Menjadi ketua DPC bukan hanya soal memimpin rapat dan memasang target. Ia harus mampu mengendalikan faksi internal, memilih caleg yang kuat, menjaga logistik, membaca dapil, membangun saksi, dan merawat basis sampai tingkat desa.

Jika Andita mampu mengubah PDIP dari partai yang terluka menjadi partai yang bergerak, maka target merebut kursi Ketua DPRD masih bisa dibaca sebagai ambisi politik yang masuk akal.

Tetapi jika konsolidasi hanya berhenti di panggung Musancab, foto bersama, dan pidato penuh semangat, maka target itu akan terdengar absurd. Bahkan bisa menjadi bumerang. Publik akan melihat PDIP terlalu cepat bicara kemenangan, tetapi terlalu lambat membenahi mesin.

Kunci PDIP bukan pada seberapa keras mereka menyebut kata “kudeta elektoral”. Kuncinya pada seberapa serius mereka membangun operasi politik.

PDIP harus tahu TPS mana yang lemah. Desa mana yang dulu menjadi basis tetapi mulai lepas. Dapil mana yang masih bisa ditambah kursi. Figur mana yang punya daya tarik. Isu mana yang paling menyentuh warga. Tanpa peta itu, target Ketua DPRD hanya akan menjadi slogan.

Politik 2029 di Blora tidak akan dimenangkan oleh partai yang paling ramai bicara. Ia akan dimenangkan oleh partai yang paling disiplin bekerja, paling rapi membaca peta, dan paling cepat menangkap kekecewaan publik.

Hari ini, PKB masih berada di atas angin. Mereka punya kursi terbanyak, punya eksekutif, dan punya waktu untuk memperkuat jaringan. Gerindra mulai menggantungkan asa sebagai partai penguasa nasional. Golkar dan NasDem tetap menjadi penghadang serius.

Belum Absurd

PDIP? Mereka punya sejarah, punya basis, dan punya peluang. Tetapi peluang itu belum cukup. Peluang harus diubah menjadi kekuatan. Struktur harus diubah menjadi suara. Kritik harus diubah menjadi kepercayaan publik.

Maka jawaban paling jujur adalah ini: target PDIP Blora merebut kursi Ketua DPRD pada 2029 belum absurd, tetapi juga belum realistis sepenuhnya.

Target itu baru akan realistis jika PDIP berani bekerja lebih teknis, lebih agresif, dan lebih dekat dengan rakyat. Jika tidak, maka “kudeta elektoral” hanya akan menjadi kalimat gagah di atas panggung, tetapi kosong di bilik suara. 9@bangsar/01)

 


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *