RSUD dr. SOETIJONO Blora: DIUJI untuk Mandiri, MENGUAT lewat Kepercayaan Pasien

BLORA, OPINI PUBLIK. CO : Di RSUD dr. Soetijono Blora, tahun 2026 tidak dibaca sekadar angka dalam kalender program kerja. Ia dibaca sebagai masa ujian: ujian ketahanan layanan, ujian kemandirian keuangan, dan ujian kemampuan manajemen menjaga marwah pelayanan publik agar tetap manusiawi. Ketika tekanan sistem kesehatan terus berubah dan kebutuhan masyarakat justru meningkat.

Dr. Puji Basuki, Direktur RSUD dr.Soetijono Blora

Direktur RSUD dr. Soetijono Blora, dr. Puji Basuki, M.Kes., menyatakan dengan nada yang tegas sekaligus realistis bahwa rumah sakit tidak boleh rapuh oleh situasi apa pun. “Kita diuji untuk bisa tidak tergantung oleh siapapun. Rumah Sakit tetap baik, tidak ada kendala, tetap tercukupi kesejahteraan karyawan. Artinya tidak ada kendala dalam pembayaran gaji dan jasa karyawan. Itu tantangan kami.” jelas dr. Puji saat diwawancarai wartawan Opini Publik.Co dan Galaksi-TV.Com di kantornya Rabu (18/2/2026)

Bagi Puji, kemandirian bukan sekadar istilah manajemen. Kemandirian berarti layanan harus tetap berjalan, sistem operasional tidak boleh tersendat, dan kesejahteraan karyawan harus tetap terlindungi. Karena di layanan kesehatan, kualitas pelayanan sangat ditentukan oleh ketenangan sistem kerja dan kepastian hak orang-orang yang menjalankannya.

Stabilitas Internal

Puji menempatkan “kesejahteraan karyawan” sebagai parameter penting. Ia menyebut bahwa manajemen memastikan tidak ada kendala pada pembayaran gaji dan jasa pelayanan. Dalam konteks rumah sakit daerah, ini bukan detail administratif, melainkan syarat dasar menjaga mutu layanan. Tenaga kesehatan tidak bisa dituntut melayani dengan empati dan ketelitian jika rumah sakit tidak mampu menjamin hak dan stabilitas sistem kerjanya.

ia juga menegaskan bahwa tantangan manajemen bukan hanya mempertahankan, tetapi menaikkan kualitas layanan yang telah dibangun pada fase sebelumnya. Tantangan kami termasuk juga untuk meningkatkan layanan-layanan yang sudah kita bangun, ‘’ tambahnya.

Menurutnya hal ini penting karena kenaikan kualitas layanan bukan sesuatu yang otomatis terjadi. Ia butuh pembenahan proses, peningkatan disiplin operasional, dan penguatan standar layanan agar semakin banyak pasien tetap mendapatkan pengalaman yang tertib dan aman.

Tanggung Jawab Naik

Dr. Puji Basuki M.Kes saat menerim award Zona intergritas dari Kementerian PAN-RB di Jakarta baru-baru ini

Puji mengaitkan upaya perbaikan layanan dengan indikator yang paling mudah dibaca publik: meningkatnya kunjungan pasien. Menurutnya, kenaikan kunjungan mencerminkan peningkatan kepercayaan masyarakat dan itu dinilai lewat evaluasi dari tahun ke tahun.

Memang ada peningkatan terutama dalam hal ini kunjungan pasiennya. Akhirnya ada peningkatan kepercayaan masyarakat. Dan itu sudah kami evaluasi dari tahun ke tahun, ‘’ tambahnya.

Menurut Puji,  ketika masyarakat datang lebih banyak, rumah sakit mendapatkan legitimasi sosial. Tetapi legitimasi itu sekaligus menambah beban tanggung jawab. Kunjungan yang meningkat akan menuntut sistem antrean lebih rapi, layanan penunjang lebih cepat, koordinasi antar-unit lebih disiplin, serta komunikasi petugas kepada pasien lebih jelas.

“Jika tidak, kepercayaan yang naik bisa berbalik menjadi keluhan, ‘’ papar Puji.

Sumber Daya untuk Inovasi

Ditambahkan Puji,  bahwa peningkatan kunjungan juga berdampak pada kinerja pendapatan rumah sakit, dan manajemen memandang pendapatan sebagai “ruang gerak” untuk berinovasi.

“Memang selalu dalam hal ini untuk kunjungan pasien termasuk juga pendapatan rumah sakit, sehingga dengan pendapatan itu kita bisa berinovasi pelayanan.” katanya.

Poin ini menunjukkan cara pandang yang praktis: inovasi pelayanan bukan retorika. Ia butuh dukungan sistem, pembiayaan yang terkendali, serta keputusan manajerial yang menempatkan layanan pasien sebagai pusat.

Dalam kerangka ini, inovasi semestinya bermuara pada hal-hal yang bisa dirasakan pasien: alur yang lebih sederhana, waktu tunggu yang lebih singkat, kepastian layanan yang lebih jelas, serta akses pengaduan yang ditangani cepat.

Bagian paling penting dari peningkatan mutu rumah sakit adalah kualitas SDM klinis. Dr. Puji menyampaikan bahwa RSUD dr. Soetijono mengalami perkembangan dari sisi ketersediaan dokter dan kompetensi layanan.

Ia menyebut, dokter spesialis sudah hampir lengkap, dan jumlahnya terus bertambah. Bahkan rumah sakit mulai menambah spektrum layanan menuju level yang lebih dalam: subspesialis dan konsultan.

Dalam penguatan layanan spesialis, RSUD juga mulai mengisi kebutuhan yang selama ini sangat dicari masyarakat yaitu Spesialis kulit dan kelamin. Untuk spektrum lain, RSUD terus melakukan penambahan tenaga spesialis sesuai kebutuhan layanan.

Selain itu, dr. Puji menyebut ada tambahan spesialis yang lebih spesifik pada layanan gigi dan kebutuhan rumah sakit yang krusial: Dokter gigi spesialis konservasi gigi, Dokter gigi spesialis anak. Juga akan ada penambahan dokter anestesi. Ada rencana penambahan dokter spesialis gizi untuk layanan terkait metabolisme .

Poin pentingnya bukan hanya “bertambah”, tetapi bagaimana rumah sakit mengatur peningkatan kompetensi agar tidak mengganggu layanan yang berjalan. Dr. Puji menjelaskan pola yang dipakai: ada yang sekolah, ada yang tetap bertugas, dilakukan bergantian agar kompetensi yang dibutuhkan bisa tercapai dan rumah sakit tetap operasional.

Layanan Makin Digital

Dibagian lain ditambahkan, peningkatan kompetensi SDM harus diselaraskan dengan perkembangan alat dan layanan yang akan dijalankan. Penguatan SDM tidak berdiri sendiri. RSUD dr. Soetijono juga memperkuat sisi penunjang medis: alkes dan layanan laboratorium.

Dr. Puji menyatakan bahwa peralatan alkes dan lab terus ditambah. Ini sejalan dengan strategi kompetensi: SDM dipersiapkan agar sesuai dengan layanan yang didukung alatnya. Dalam praktik rumah sakit, pengadaan alat tanpa kompetensi operator dan sistem layanan akan menghasilkan bottleneck baru. Karena itu, model “alat bertambah kompetensi menyusul atau disiapkan secara bergiliran” menjadi pendekatan yang lebih masuk akal.

Salah satu pergeseran penting yang disorot dr. Puji adalah aspek digitalisasi pelayanan. Ia menyebut bahwa sekarang pasien bisa memantau proses dan hasil melalui HP. “Intinya: hasil/akses informasi layanan sudah bisa dilihat lewat HP masing-masing, dan sistem ini sudah berjalan di Blora, ‘’ tambah dr Puji.


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *