Dr. H Arief Rohman SIP, MSI Bupati Blora

Refleksi Blora 276 , 11 Desember 2025


BLORA, OPINI PUBLIK.CO : Setiap tahun Blora merayakan hari jadi, tetapi di usia ke-276 ini pertanyaannya perlu diubah: apakah Blora hanya semakin pandai menggelar upacara, atau benar-benar berani mempercepat lompatan menjadi kabupaten agroindustri hijau dan digital seperti yang dibayangkan Bupati Dr. H. Arief Rohman, S.I.P., M.Si.?

Di periode kedua, slogan “Sesarengan Melanjutkan Membangun Blora” hanya akan berarti jika diterjemahkan menjadi keberanian mengambil keputusan strategis, bukan sekadar menjaga kenyamanan birokrasi.

Periode pertama kepemimpinan Arief diwarnai kerja membenahi dasar: infrastruktur yang tertinggal, pelayanan publik yang belum rapi, tata kelola yang butuh kepastian arah. Itu fase menambal kekurangan.

Memasuki 2024–2029, fase itu bergeser. Blora tidak bisa terus berada di mode “bertahan hidup”. Dengan modal periode pertama, wajar jika publik menuntut akselerasi. Arah yang dideklarasikan cukup jelas dan terukur menjadi : Penyelesaian jalan penghubung antar-kecamatan dan akses ekonomi desa. Penguatan ketahanan pangan lewat inovasi pertanian organik.

Arief Rohman -Sri Setyorini dalam Rapat pleno terbuka penetapan pasangan calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Blora, dalam pemilihan tahun 2024, yang digelar oleh KPU Kabupaten Blora, Kamis (9/1/2024)

Juga perluasan Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga SMP, Reformasi layanan publik digital menuju Smart Government. Penguatan SDM melalui vokasi dan beasiswa unggulan daerah.

Di titik ini, periode kedua tidak boleh dibaca sebagai “mengulang lima tahun lalu dengan pola baru”, tetapi sebagai fase pemantapan: menjaga yang sudah dibangun, memperbaiki yang masih bocor, dan melompat ke arah yang lebih berani.

Tak Sekadar Pemanis

Beberapa capaian pemerintahan Arief tidak bisa diabaikan karena berbasis data seperti : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) BPK untuk LKPD diraih 10 kali beruntun hingga 2023. Indeks Reformasi Birokrasi naik dari 69,22 (kategori B) pada 2023 menjadi 81,67 (A-) pada 2024 dan SAKIP bertahan di predikat B, dengan tren naik dari 60,35 (2018) menjadi 65,40 (2023).

Artinya, fondasi tata kelola sudah lebih kokoh dibanding beberapa tahun lalu. Namun di hari jadi ke-276, refleksinya harus tegas: angka-angka itu belum otomatis menjelma pengalaman menyenangkan bagi warga jika ; Proses perizinan masih dirasa berbelit, Informasi layanan belum transparan dan mudah diakses dan Keputusan publik masih dirasa tidak konsisten di level bawah.

Perjalanan menuju birokrasi modern tidak selesai di piagam penghargaan. PR berikutnya adalah memastikan setiap kantor layanan, puskesmas, sekolah, kecamatan, dinas, menerjemahkan RB dan SAKIP menjadi budaya kerja, bukan sekadar laporan tahunan.

Tak Hanya Menambah

Arief Rohman dan Ketua DPRD Blora saat menandatangani naskah dua raperda pada sidang paripurna DPRD Blora Sabtu (15/11/2025)

Predikat Kabupaten Terinovatif – IGA Kemendagri 2023 dengan sekitar 210 inovasi daerah menunjukkan mesin inovasi Blora bergerak. Program seperti: GESEKU (Gerakan Sejuta Kotak Umat) yang menggerakkan solidaritas sosial. SILAT (Sistem Informasi Layanan Anak Tidak Sekolah) yang memetakan anak-anak rentan putus sekolah, ditambah sekitar 36 penghargaan lintas OPD sepanjang 2023, adalah modal reputasi yang penting.

Namun justru di sini dibutuhkan sikap kritis. Tantangan periode kedua bukan menambah daftar inovasi, tetapi menyaring: Mana inovasi yang benar-benar dipakai warga dan berdampak langsung. Mana inovasi yang hanya kuat di dokumentasi dan presentasi lomba.

Inovasi yang sehat adalah yang tetap hidup lima tahun ke depan, dipelihara, disempurnakan, dan menjadi standar kerja baru, bukan yang hilang setelah piala diterima.

Di sektor perlindungan anak dan pembangunan sosial, Blora menunjukkan pergerakan: Status Kabupaten Layak Anak (KLA) meningkat bertahap: dari Madya (2023) menuju Nindya (2025). Ini menandakan ada penguatan perhatian terhadap hak anak.

Di sisi lain, Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi ikon program yang sangat terlihat di lapangan, dengan langkah: Perluasan cakupan hingga SMP, Penyediaan hotline pengaduan dan SPPG sekolah dan Skema insentif bagi guru penanggung jawab MBG.

Di atas kertas, MBG bisa menjadi investasi gizi dan ekonomi lokal: petani, peternak, dan pelaku UMKM pangan masuk rantai pasok. Namun risiko juga tidak kecil: ketika standar mutu pangan, kebersihan dapur, dan pengawasan lemah, satu kasus bisa merusak seluruh narasi.

Refleksi hari jadi ke-276 di sini jelas: MBG harus diperlakukan sebagai program strategis yang memakai standar kesehatan, gizi, dan sistem pengawasan yang ketat, bukan proyek populer yang bergerak tanpa kontrol memadai.

Harus Punya Arah

Pengurus FJMSB saat melakukan audensi dengan Bupati Blora Arief Rohman terkait pelaksanaan Diskusi Terbatas Agroindustri Blora


 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *