Catatan Bidang Pendidikan Blora 2025

TAHUN 2025 tidak akan dikenang sebagai tahun yang ringan bagi Dunia Pendidikan Blora. Ia berjalan dengan beban, luka, dan koreksi. Tetapi justru dari situ, pendidikan Blora menunjukkan satu hal penting: tidak menutup diri dari kenyataan.
Tragedi meninggalnya lima santriwati di Kali Lusi menjadi titik balik yang pahit. Bukan hanya karena nyawa yang hilang, tetapi karena peristiwa itu membuka fakta telanjang bahwa sistem pengawasan, manajemen risiko, dan kesadaran keselamatan anak masih rapuh.
Pendidikan tidak boleh lagi merasa cukup dengan pagar sekolah, absensi, dan rapor. Di tahun 2025, Blora diingatkan bahwa keselamatan peserta didik adalah fondasi paling dasar dari mutu pendidikan.
Di sisi lain, kasus perundungan yang sempat viral juga memperlihatkan bahwa ruang sekolah belum sepenuhnya aman secara sosial dan psikologis. Namun respons yang diambil, pendampingan, pembinaan, hingga langkah tegas, menandai satu kemajuan cara pandang: masalah tidak disapu, tetapi dihadapi. Pendidikan yang sehat bukan pendidikan tanpa konflik, melainkan pendidikan yang mampu mengelola konflik secara beradab dan bertanggung jawab.
Pada level kebijakan, tahun 2025 adalah tahun konsolidasi. Tata kelola penerimaan peserta didik mulai diarahkan lebih tertib dan transparan. Koordinasi lintas instansi diperkuat. Sekolah perlahan diposisikan kembali sebagai layanan publik, bukan ruang kompetisi elitis. Ini bukan perubahan instan, tetapi langkah awal yang penting.
Dalam tekanan itu semua, ruang prestasi dan ekspresi siswa tetap dijaga. Festival seni, olahraga, dan kreativitas tetap berjalan. Ini memberi pesan jelas: anak-anak di Blora tidak boleh kehilangan harapan hanya karena sistem sedang berbenah. Pendidikan tetap harus memberi ruang tumbuh, bukan sekadar ruang bertahan.
Mulai Dirapikan
Di tengah situasi berat itu, Dinas Pendidikan Blora tidak sepenuhnya berjalan di tempat. Tahun 2025 juga mencatat upaya pembenahan tata kelola, terutama pada komitmen pelaksanaan, SPMB yang lebih transparan dan berkeadilan, penguatan koordinasi lintas instansi serta pengakuan bahwa pendidikan adalah layanan publik, bukan ruang eksklusif.
Ini bukan prestasi besar, tetapi langkah yang jujur dan dalam birokrasi, kejujuran sering kali lebih sulit daripada pidato. “Keadilan pendidikan dimulai dari pintu masuknya. Kalau penerimaan murid bersih, kepercayaan publik punya alasan untuk tumbuh,” ujar seorang tokoh pendidikan di Blora.
Namun tahun 2025 juga mengajarkan satu prinsip keras: prestasi tidak boleh menjadi tirai untuk menutupi masalah keselamatan dan perlindungan anak.
Prospektif 2026
Jika 2025 adalah tahun koreksi, maka 2026 harus menjadi tahun perubahan cara kerja. Beberapa agenda tak bisa ditawar antara laian : Sekolah aman harus menjadi kebijakan inti, lengkap dengan SOP, audit risiko, dan sanksi jika diabaikan.


.gif)