Perlindungan anak harus bersifat preventif, bukan reaktif setelah viral. Guru dan pendamping perlu diperkuat, bukan hanya dibebani administrasi. Serta : Prestasi dan karakter harus berjalan seimbang, dengan keselamatan sebagai fondasi.
“Belajar dari tragedi bukan soal mengingat luka, tetapi memastikan luka itu tidak berulang,” masih ungkap pemerhati pendidikan di Blora.
Dalam catatan akhir tahun, Dinas Pendidikan Blora di 2025 bukan dalam kondisi “baik-baik saja”. Justru inspiratifnya ada pada hal yang lebih penting yaitu : upaya merapikan tata kelola (SPMB) dan menjaga ruang talenta (FLS3N–O2SN) di tengah hantaman tragedi dan krisis perlindungan anak.
Sementara di tahun 2026 menuntut satu komitmen yang lebih tegas: mencegah sebelum terjadi, melindungi sebelum terluka. Jika itu dijalankan sebagai sistem, bukan kampanye, maka luka 2025 tidak sekadar dikenang, tetapi menjadi alasan kuat untuk pendidikan Blora bertumbuh lebih bertanggung jawab. (@bangsar25/01)


.gif)